Bagaimana Mengatasi Kebuntuan Berpikir ?

Bagaimana Mengatasi Kebuntuan Berpikir ?


Produktif dan produktif menjadi topik utama saya setidaknya sejak Oktober 2022 hingga akhir Desember 2022 dan menyambung ke Januari 2023. Harusnya.

Akan tetapi nyatanya tidak demikian.

Awal Januari 2023 dimana seharusnya adalah awal dari langkah dan semangat baru rupanya justru menjadi awal dari sebuah kemunduran pola pikir. Dimana produktif bukan lagi menjadi prioritas utama dengan alasan yang kurang masuk akal bahkan tanpa alasan. 

Jenuh

Setiap orang tentu wajar saja menemui titik jenuhnya sendiri dan merasa bosan. Apalagi setelah sebelumnya benar-benar kerja mati-matian demi mencapai target yang sudah dibuat. 

Yang jika kita analogikan dalam pertandingan lari marathon, kita sudah salah menerapkan teknik yang seharunya kita lari santai dengan sembari menyimpan energi untuk sprint di menjelang finish, justru kita sprint sedari peluit tanda mulai pertandingan dinyalakan. 

Mungkin memang akan cepat sampai di pertengahan lintasan, hanya saja lebih ngos-ngosan dan kelelahan. Dan disaat itulah akhirnya kita memperlambat langkah demi sedikit rehat untuk me-recharge energi yang sudah terlalu banyak terkuras. 

Tapi masalahnya, alih-alih rehat sejenak, biasanya otot yang sedari awal sudah dipaksa untuk kerja keras dan kemudian diistirahatkan sejenak, mereka (para otot) mengira bahwa ini sudah waktunya beristirahat secara total. 

Dan pada akhirnya jangankan untuk sprint di garis akhir, bahkan kedua kaki terasa begitu sulit untuk digerakkan. Pada akhirnya ?

Dan setidaknya itu yang saya rasakan. Menemukan titik jenuh karena kehabisan energi dan kesenangan. Istilahnya semua sudah ditumpahkan dan kelelahan.

Lupa

Setiap kita memiliki otak yang digunakan untuk berpikir dan mengingat sesuatu yang pernah terjadi atau kita alami dalam bentuk memori. Dan sering kali karena terlalu banyak hal yang dipikirkan, maka lupa menjadi hal yang sangat lumrah.

Dulu saya beranggapan bahwa karena terlalu banyak mikir, tidak ada space lagi di kepala saya untuk mengingat sesuatu, apalagi hal-hal yang tidak menarik untuk diingat atau yang tidak membawa dampak besar untuk rencana kedepan. Hingga kemudian bahkan rencana-rencana yang pernah dipikirkan pun ikut terbawa lupa.

Karena memang kepala ini masih digunakan untuk memikirkan dan membuat rencana-rencana baru untuk masa yang lebih kedepan lagi, hehe.

Dan itu yang terjadi, apa yang beberapa bulan lalu saya mulai dan jalani kemudian seketika lupa dengn perintilan yang tengah saya pikirkan, alih-alih kelelahan dan rencana sudah berjalan dan bisa sejenak ambil masa liburan.

Bahkan saya bisa scroll seharian meskipun tidak jadi beli apapun dan melupakan semua produk yang sudah berada di keranjang belanjaan.

Tidak merasa bersalah menonton film selama 2 jam dari awal hingga akhir dan menikmati alur cerita yang sebetulnya tidak ada relevansinya untuk kehidupan.

Nonton video-video auto play yang ada di Youtube alih-alih cuma dengerin sambil ngurus kerjaan dan terjadi seharian.

Dan tanpa disadari semua hal itu sudah berjalan selama 2 minggu. Wah waktu begitu cepat berlalu.

Dan saya rasa semua ini belum selesai. 

Dan kemudian hal tersebut menjadi bahan untuk menulis artikel ini yang saya sendiri tau betul tidak banyak yang membaca, yang cuma dibaca oleh orang nyasar seperti anda mungkin.

Tapi yasudah, setidaknya saya berhasil menulis ini menggunakan keyboard baru yang baru saja saya Unboxing hari ini yang kebetulan memang ini keyboard impian saya sejak lama yakni keyboard keluaran Apple yang menghadirkan banyak keajaiban di dalamnya. Bahkan sampai membuat saya menulis ini. Ajaib sekali.

Magic Keyboard gen 2 yang sebetulnya bukan barang baru dan saya beli dengan kondisi second like new dengan harga yang sangat terjangkau. Sementara sekarang sudah ada Magic Keyboard With Touch ID yang lebih canggih dalam hal login ke Mac dengan satu sentuhan ringan. 

Hanya saja, selain harganya yang cukup mahal, bentuknya yang lebih rounded dari Gen 2 juga sama sekali bukan tipe idaman saya.

Jadi yasudah, kembali ke pertanyaan diawal yang saya gunakan sebagai judul tulisan ini, Bagaimana Mengatasi Kebuntuan Berpikir ?