Salah sangka terhadap Anak

Salah sangka terhadap Anak

Anak, sebuah individu baru yang muncul dalam sebuah keluarga yang rupanya banyak orang mengharapkan kehadirannya untuk menambah kehangatan atau bahkan keharmonisan sebuah keluarga. Konon katanya begitu. 


Terkait dengan anak, ada begitu banyak kasus dari mulai paska kelahiran hingga tumbuh kembang bahkan pra kelahiran anak seperti misalnya program atau kegagalan memiliki anak. 

Tentang kelahiran anak. Ada banyak kasus mengenai kelahiran anak hingga bahkan pasangan yang sulit sekali memiliki anak. Terkait hal itu kemudian ada banyak juga salah sangka terhadap anak dan yang terkait dengannya. Apa saja itu ? Mari kita bahas

Program 

Dalam lingkup rumah tangga, biasanya ada yang menyebut program hamil atau banyak juga yang sama sekali tidak menganut program apapun dan tetau beranak banyak. Disisi lain ada yang tidak juga memiliki satu anak pun. 

Dan terlepas dari itu, rupanya pun ada pernyataan yang menurut saya agak sedikit aneh yang sempat ditanyakan terhadap saya sendiri. “Anak lu cewe ? Duh jangan-jangan gak bisa bikin anak cowo?”. Kira-kira seperti itu.

Beberapa tahun lalu sudah lama sekali saya sering kali membnahas mengenai kodrat yang melabeli gender manusia yakni lelaki dan perempuan yang keduanya dibedakan dengan hormon yang membentuk itu. 

Kita singkirkan dulu perihal jenis kelamin selain yang disebutkan diatas ya. 

Dulu saya beranggapan bahwa penentu sebuah janin menjadi lelaki maupun perempuan adalah dari hormon pembentukannya yang bisa dibentuk melalui pola makan ibu yang kemudian akakn diproses menjadi komponen yang menentukan jenis kelamin. 

Rupanya, apa yang saya pahami itu tidak sepenuhnya lengkap karena memang saya tidak mempelajari melalui bidang akademis, selain hanya berargumen yang berlandaskan asumsi bahwa tidak ada kodrat yang terbntuk tanpa sebab. 

Selain dari pola makan disaat hamil, pola makan pra kehamilan pun akan berpengaruh, setidaknya itu yang saya baca beberapa tahun lalu. Dan kemudian beberapa bulan lalu mungkin saya lupa ada pula narasi yang menyebut bahwa pola bercinta dan posisi pun akan berpengaruh terkait kromosom yang nantinya akan terbntuk pada pembuahan janin. 

Dan sepertinya, pernyataan diatas mengenai “Tidak bisa beranak cowo” itu sangat aneh. Dan anehnya lagi adalah, si pelaku pernyataan memang sejauh ini hanya punya anak perempuan dan sama sekali tidak tahu mengenai proses pembentukan janin. Tanpa program dan “mungkin” terjadi begitu saja. 

Dikasih

Selanjutnya selain salah sangka diatas, ini yang sering sekali dipahami oleh banyak orang bahwa anak itu dikasih oleh Tuhan. Atau si orang tua ini mendapat kepercayaan Tuhan untuk dititipi seorang anak atau lebih. Kalau anaknya banyak mungkin dipercaya sebagai penampungan. 

Dasar paham dikasih ini tentu saja merujuk pada konsep kepercayaan terhadap sebuah entitas yang sangat luar bisa yang kemudian dinyatakan sebagai Tuhan. 

Dan umumnya yang saya ketahui label “dikasih” ini seringkali digunakan untuk melindungi sebuah keadaan yang mungkin dianggap kurang menguntungkan dimata sosial seperti misalnya sulit mempunyai anak. Biasanya bahasanya begini “Kita sudah berusaha, tapi Tuhan belum kasih”. 

Baik, terdengar sangat bijak dan anggun. Tapi sebentar, usaha apa yang dimaksud ?

Apa diadakan program yang serius terkait kehamilan ? Atau hanya upaya dalam bercinta yang beraneka ragam gaya atau mengkonsumsi ramuan tertentu atau apa ? 

Dalam kasus ini kita seharusnya sepakat bahwa seorang anak tidak akan lahir tanpa orang tua. Sehingga secara teknis orang tualah yang membuat anak tersebut dengan segala usahanya dari yang privat hingga yang menggunakan metode tertentu. 

Dan tentu saja, itu semua memiliki proses yang setiap detiknya terjadi dan menguras banyak energi dan juga mental dalam persiapannya. Bukan semata-mata mendadak dikasih setelah bersetubuh. Ada begitu banyak proses tak terlihat yang terjadi disana. 

Dan sialnya kesalahpahaman ini pun dianut oleh orang-orang yang sudah memiliki anak hasil buatannya itu. 

Dan kemudian muncul keluhan-keluhan terkait watak anaknya yang semakin aneh seiring berjalannya waktu. 

Disini kita harus mengerti bahwa anak merupakan hasil campuran dari gen ayah dan ibunya atau lebih. Maksud saya kakek nenek dari kedua belah pihak atau bahkan gen leluhur yang kemudian membentuk kepribadian baru yang unik. Kadang batu juga. 

Dan kita sebagai orang tua misal, harus mengamati apa yang menjadi perpaduan itu karena kita sendiri pun tidak mengerti ada berapa “traits” yang tersemat pada si anak tersebut. Bisa jadi mirip dengan orang tuanya atau bisa jadi malah mirip dengan leluhurnya dari sifat, watak hingga bahkan bentuk tubuhnya. Dan itu tidak jarang terjadi, meskipun umumnya selalu ada kemiripan dari orang tua secara langsung entah dibagian apanya. 

Dari pengamatan kita sedari lahir dan perlahan mendidik si anak, seharusnya tidak ada keluhan selain dari komplain dan mempertanyakan kenapa ia mempelajari sesuatu yang lain. Yang bisa saja mempelajari saat ada orang lain datang atau dibawa nenek keliling pamer ke tetangga. 

Dan tugas kita sebagai orang tua tentu haruslah memberikan jaminan atas apa yang kemudian dia serap, mengarahkan ke arah yang semestinya, bukan malah ngeluh dan membuat drama hingga buang anak atau berkata kasar ke anak. 

Dan kita seringkali lupa bahwa anak akan mengikuti apa yang kita lakukan, maka jika si anakpun tidak pernah dibawa orang lain keluar rumah tanpa sepengetahuan kita, dan ia memiliki sifat yang aneh, mungkin itu merupakan sifat kita atau pasangan kita yang mencontohkannya atau merupakan turunan gen. 

Intinya apapun yang anda dapatkan adalah apa yang kita ciptakan. Dan kita ada disana sepanjang prosesnya. Bukan malah ngeluh kalau anak nakal mengira dititipi anak setan. 

Setup

Anak, biar bagaimanapun juga merupakan produk kita dan pasangan, bukan yang lain. Ya benar, produk lingkungan, dan kita adalah lingkungan terdekat yang membentuka pribadinya. Apa yang terjadi kepada anak adalah apa yang kita set kepadanya. 

Sikap kita, ia akan tiru dengan perlahan dan senyap. 

Kemudian saat anak sudah mulai bertumbuh, kita sebagai orang tua akan mulai memikirkan pendidikan apa yang layak diberikan kepada si anak demi bisa berbaur dan bersaing di ranah sosial. Dan setup kita pun dimulai dengan arahan-arahan yang kita paksakan. 

Misal dalam hal memilih sekolah, biasanya orang tua yang milih dan anak cum tinggal nurut saja karena memang belum punya kapasitas untuk berlasan dan sebelum itupun sudah kita beri ancaman macam-macam. Dan pada akhirnya ia mengalah dan beradaptasi dengan lingkungan baru yang akan membentuk kepribadian tambahannya. 

Siapa yang memilih teman ? Kita. Karena kita yang menempatkannya disitu hingga akhirnya ia menemukan teman yang cocok dengannya. Jika saja kita tempatkan ditempat lain, ceritanya akan sangat lain. Dan sebagai orang tua, tentu kita sudah mengalami masa-masa itu jauh hari sebelumnya.

Nah anehnya karena paham dikasih ini, saat anak tidak bisa mengikuti mata pelajaran dan bernilai jeblok, kita kesal dan menuntut yang tidak-tidak. Parahnya adalah beranggapan bahwa kita dikasih anak yang bodoh. Yang padahal ya itu turunan gen kita sendiri yang memang tidak pernah cerdas. 

Atau jika kita terbuka pada banyak kemungkinan lain, bisa jadi memang si anak tidak minat dengan pelajaran yang ada, atau tidak tertarik dengan lingkungan tersebut yang menurutnya toxic.

Atau justru malah rupanya si anak mengidap kelainan yang tidak pernah kita kira ?

Saya ada keponakan yang saat ini masih disekolah dasar. Nilainya tidak pernah bagus bahkan sempat tinggal kelas, padahal anaknuya cukup aktif di sesi tanya jawab. 

Dan yang spesial dari anak ini adalah di usianya yang masih sangat muda “Hiyak”, ia sudah pinter buat gambar bagus. Type nya anime, bukan gambar pemandangan gunung yang ada mobilnya. 

Bahkan saat saya seusianya, gambar saya jauh dibawahnya. Mungkin karena memang referensi gambar saat ini begitu banyak dan ia cukup rajin mengikuti tayangan-tayangan gambar. 

Tapi yang membuat agak aneh adalah, nilainya selalu jeblok dan lebih aneh lagi saat menulis angka 7, terbalik. Kok bibsa ?

Sempat saya melihat sesi ia belajar karena ada PR dan besok ada ulangan, susah sekali menyerap dan fokus ke pelajaran. Minatnya selalu ke gambar. Dan saya cukup relate dengan itu. Dan saya pun tidak pintar di sekolah, mentok ranking 2 selisih 1 poin haha. 

Dan yang lebih aneh dari itu semua adalah orang tuanya tidak peduli. Setidaknya itu yang saya lihat. 

Ketika kita bahas terkait si anak, mereka malah nyalahin gurunya, nyalahin sekolahnya dan nyalahin kurikulum atau teman-temannya. Kan aneh. 

Kenapa menyekolahkan anak disitu yang memang merupakan sekolah yayasan kecil dan mungkin tidak lolos akreditasi dengan kurikulum yang berbeda dengan skolah standar. 

Dan saya rasa, tidak sedikit yang seperti itu. Bahkan ada tetangga dari tetangga saya yang sama sekali tidak ada dalam proses pertumbuhan si anak karena harus bekerja di luar negeri. Yang dengan begitu saya pikir, apa yang terjadi kepada si anak sepenuhnya tidak ada peran orang tua selain dari pembiayaan karena memang keduanya ada di luar negeri. Yang lebih aneh nya aneh adalah bahwa mereka si orang tua ini menganut kepercayaan babwa anak itu titipan. Lah kok dititipin malah ditinggal ? 

Kita mempoduksi anak dengan kesadaran sepenuhnya. Dan sudah tentu kita penuh tanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang baik untuk produk kita dan menjadikan produk kita itu produk unggulan. 

Bayangkan jika anak itu adalah titipan, apa yang akan kita lakukan ? menjaganya sampai ia kembali diambil sama yang punya ? Ya seperti itu.