Haruskah Setolol itu ?

Haruskah Setolol itu ?


Ampun… sampai judul saya sekasar itu. 

Masih kelanjutan dari bahasan yang kemarin saya bicarakan tentang “Waktu adalah Uang” yang ternyata balasan saya justru direspon oleh orang lain yang saya tidak mengerti juga asal usulnya. 

Selain itu memang sama sekali tidak ada satupun diantara orang-orangn disana yang saya kenal. 

Sejauh ini saya masih bersyukur dengan adanya orang-orang yang bersikap netral terkait jawaban saya atau cuek saja sama sekali tidak merespon atau bahkan tidak melihat. 

Tapi, rupanya ada juga yang tergelitik dan melayangkan pernyataan seperti ini.

Waw sekali. 

Apa harus setolol itu ? 

Pada komentarnya itu, bukan merupakan pertanyaan melainkan pernyataan meledek yang berlebihan dan tanpa nalar sama sekali. 

Terlalu bocah malah yang biasanya suka menyebut nominal yang bombastis tanpa dasar nalar sedikitpun yang sering kita jumpai pada sekumpulan anak SD yang sedang adu banyak uang bapak mereka atau sejenisnya. Contoh “Bapak gua punya 1 miliar” … teman yang lain tidak mau kalah dengan bilang “Bapak gua punya 1 triliun”. 

Setidaknya … sebelum membuat satu pernyataan apalagi di depan umum, biasakan lah berpikir terlebih dulu meskipun sedikit. Yang cetek-cetek saja lah. 

Sekarang gini saja, sebelum menyebut kerugian saya 1 triliun karena membalas komentar yang baru berjalan 2 hari semenjak di post, adakah logika nalar yang paling logis ?

Pendapatan Bill Gates saja terhitung 155 miliar per hari yang jika 2 hari baru 360 an miliar. Masih jauh dari 1 triliun. Kok bisa saya yang mengklaim mengalami kerugian senilai 1 juta rupiah perhari bisa tembus 1 triliun dalam waktu 2 hari ? Nalar nya kemana ? 1+1 saja gagal jawab ? Bukan main.

Jujur saja saya kesal sekali dengan lelucon dari orang satu ini yang sama sekali tidak bernalar. 

Umumnya, lelucon dibuat oleh orang-orang dengan pola pikir cerdas dengan konsep yang begitu rumit cuma agar bisa membuat orang tertawa. Dan tidak jarang yang gagal juga karena salah cara membawakannya. Dan ini … bahkan untuk disebut lelucon pun gagal. 

Hey kenapa saya membesar-besarkan masalah sepele ini ? 

Pertama ini bukan masalah sepele dan ini masalah yang benar-benar besar yang terjadi di Indonesia. 

Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya mengenai bagaimana pola hidup di Indonesia yang sama sekali tidak teredukasi tentang waktu. 

Iya saya akui, saya bukan orang yang sangat ontime dan terjadwal apalagi disiplin. Lalu darimana basis data dari klaim saya mengenai kerugian 1 juta perhari ?

Sebetulnya klaim saya tidak sepenuhnya valid. Dalam klaim saya pada salah satu komentar disana menyebut bahwa saya mengalami kerugian sebesar 1 juta rupiah perhari karena sibuk dengan projek modifikasi motor. Yang sebetulnya, dalam sebulan kerugian saya bisa sampai 40 juta rupiah. 

Yang artinya tidak sepenuh nya 1 juta perhari dan bahkan lebih. 

Kemudian klaim saya mengalami total kerugian selama 4 bulan yakni 120 juta rupiah, yang jika ditinjau dari apa yang sebenarnya terjadi, bahkan hingga sekarang saya belum mampu recover kerugian atau bahkan membuat semua kembali normal karena adanya perubahan kebiasaan. Dan total waktu yang saya habiskan dalam projek modifikasi pun bukan 4 bulan, melainkan 5 bulan. 

Kenapa saya mengklaim 120 juta dalam 4 bulan ? Karena saya rasa angka segitu saja sudah dianggap berlebihan bahkan halu. Dan benar saja respon yang saya dapatkan memang menyiratkan demikian. 

Baiklah… sejauh ini itu yang terjadi dan saya pikir tidak ada keharusan saya melampirkan data tertulis yang memang saya catat setiap hari disini sebagai kepentingan publik. Dan jika anda pun menganggap saya berlebihan ya itu memang masalah anda tentang bagaimana anda menyikapi waktu. 

Dan di titik ini pun saya tidak merasa ada kesalahan dalam penyampaian saya, bahkan tadi sore saya mencoba mengkonfirmasi seseorang yang berprofesi sebagai pengajar di sebuah sekolah negri. 

Tanpa konteks, saya tepuk pundak beliau dan nanya begini “Berapa harga sehari anda ?”

Dan beliau pun menjawab “100 ribu” dengan mimik yang sangat puas dan bangga. 

Hal itu terjadi di depan publik yang mana ada beberapa orang yang bahkan tidak dekat sedang berada disana dan menyaksikan obrolan singkat tersebut. 

Saya teruskan pertanyaan saya “Jadi sepakat kan kalau waktu ada harganya ?”

Dan dengan tegas beliau menjawab “Iyalah waktu adalah uang”. Dan semua orang yang ada di ruangan tersebut pun setuju dengan pandangan itu lantaran memang semua dari kita memiliki nilai sendiri terhadap waktu yang kita miliki berbasis dari seberapa besar yang bisa kita hasilkan dalam kurun waktu tertentu, misalnya per bulan. 

Dan jika anda yang baca ini adalah orang yang bekerja atau berpenghasilan, maka sepenuhnya anda mengerti bahwa waktu anda memang ada harganya. Jika tidak, saya tidak paham setolol apa anda. 

Padahal hitungannya sangat sederhana, berapa upah yang anda terima dalam kurun sesuai perjanjian kerja anda ? Misal sebulan, seminggu ataupun sehari jika memang hanya pekerja harian. Dari sana bisa dihitung berapa harga waktu anda dalam sehari berbasis dari jumlah nominal yang bisa anda dapatkan. 

Loh saya kan kerja hanya 8 jam. Iya memang, apakah selepas 8 jam itu pikiran anda langsung pindah ke tempat lain ? Pada faktanya bahkan saat mimpi pun kadang anda berada di tempat kerja. Ya kan ? 

Itu artinya seluruh waktu hidup anda selama 24 jam memang ditukar dengan harga yang sudah diatur dalam kontrak yang anda tanda tangani. Tentu alangkah bagusnya jika ada pendapatan sampingan atau pendapatan selain dari nominal uang yang sangat berharga misal saja konten tertentu seperti seni artistik, konten digital berbayar dan masih banyak hal lainnya. Dan dari semua itu, semua akan dikembalikan ke harga nominal dari mata uang yang berlaku. 

Misal saja anda adalah pekerja dan diluar jam kerja anda adalah konten kreator yang sudah memiliki banyak sekali views dari jutaan pelanggan. Tentu saja harga waktu anda akan sangat jauh berbeda dari orang yang hanya bekerja pada satu bidang saja dan free diluar jam kerja tersebut. 

Dan yang memang perlu kita pahami adalah bahwa harga waktu kita berbeda dan tidak usah merasa related dengan harga waktu orang lain yang sangat berharga tinggi diluar nalar kita. Apalagi sampai menganggapnya halu. Itu tolol.