Landasan Sikap, Apa ?

Landasan Sikap, Apa ?


Sebagai makhluk sosial yang membutuhkan pihak lain, kita sebagai manusia dituntut untuk bersikap sebagaimana mestinya yang tentu saja hal tersebut sangat dinamis. 

Bahkan melihat dari data-data peristiwa bahkan orang paling penting pun menyatakan adanya perbedaan sikap di waktu-waktu terntentu yang dengan hal itu menandakan bahwa sikap kita harus selalu disesuaikan terhadap suatu situasi atau kondisi tertentu dalam ranah yang normal dan benar.

Dan tidak jarang juga data-data peristiwa tragis dan bahkan mengerikan yang semua hal tersebut selalu terkait dengan sikap yang dinilai tidak tepat atau bisa disebut salah bahkan fatal yang mengakibatkan terbunuhnya pihak lain yang kemudian disebut Korban. 

Dengan meninjau hal-hal diatas dan perilaku yang selama ini kita tahu di lingkungan tempat kita hidup, maka ada tuntutan yang mengharuskan kita bersikap. Dan tentunya bukan tuntutan tersebut yang menjadi landasan kita dalam bersikap. 

Apa landasan sikap ?

Pertama, yang musti kita ketahui adalah tentang sikap itu sendiri yang jika diartikan dalam bentuk kalimat atau bahasa, maka sikap adalah sebuah pernyataan evaluatif terhadap suatu kondisi. 

Dengan adanya pengertian tersebut kita jumpai disana ada penekanan “evaluatif” yang mana bisa diartikan sebagai cara kita mengukur berbagai macam aspek untuk kemudian kita nyatakan hasilnya dalam sikap. 

Lalu apa yang mendasari semua itu ? Apakah kepintaran matematis ? 

Bisa iya bisa juga tidak. Pola pikir tentu memiliki dasar rujukan yang kemudian membentuk pribadi dan bagaimana cara menilai, mengukur yang pada akhirnya menyatakan sikap. 

Tidak sedikit orang dengan kapasitas intelektual tinggi menempatkan posisi yang sesuai dalam suatu situasi sehingga sikapnya bisa diterima dan normal sebagaimana mestinya. Dan begitu juga sebaliknya, tidak sedikit pula yang dengan dasar pengetahuannya yang luar biasa membuat pada akhirnya seseorang menunjukkan sikap yang tidak baik, merendahkan bahkan cenderung melecehkan dengan ilmu pengetahuannya yang sangat tinggi. 

Orang yang dianggap bodoh, dengan ketenarannya sebagai orang bodoh kemudian bersikap bodoh dan hal itu menjadi wajar dan benar dan tentu saja itu yang bisa diterima, namun akan menjadi masalah jika yang bersangkutan ini melakukan hal-hal bodoh yang padahal kan memang itu haknya sebagai orang bodoh, malah ditolak dan dipersalahkan. 

Dan yang mempermasalahkan tindakan bodohnya ini apa bisa dibenarkan ketika orang bodoh bertindak bodoh sesuai dengan kapasitasnya sebagai orang bodoh ? 

Siapa disini sebenarnya yang bodoh ?

Jika, landasan bersikap adalah pola pikir yang tentu saja berbasis pengetahuan, tidak jarang sikap seseorang menjadi sangat arogan dan cenderung merendahkan dan tentu saja itu bukan sikap yang baik. Terlepas baik dan buruk memang tidak ada tolok ukur kebenarannya, hal tersebut akan sulit diterima bahkan oleh orang yang bodoh sekalipun meskipun dalam situasi tersebut orang bodoh cenderung akan mengamankan diri dengan tidak menjadi dirinya sendiri dengan tidak melakukan hal bodoh. 

Lalu, apa seharusnya yang menjadi landasan bersikap supaya dinamis dan tidak kaku serta tidak disalah artikan dalam suatu situasi tertentu ?

Mungkin … ini mungkin … saya tidak mencari referensi tentang ini, hanya abstraksi pikiran saya yang belum terkonfirmasi bahwa landasan yang paling tepat untuk bersikap adalah “bijak”.

Saya sendiri kurang mengerti apakah bijak merupakan sikap atau diluar dari itu yang bisa digunakan untuk bersikap. 

Jika bijak merupakan sikap itu sendiri, maka Bijak pun patut dipertanyakan karena sikap haruslah dinamis, maka apa yang dimaksud dengan bijak pun tidak memiliki arti yang jelas. 

Dan jika Bijak diluar dari sikap, maka bijak inilah yang bisa menjadi dasar bahkan satu-satunya yang bisa mendasari sebuah sikap. Dimana bijak sendiri memiliki kompleksitas yang tinggi dalam hal mengamati, menilai, dan menyimpulkan dalam waktu singkat hingga muncul sebagai pernyataan dalam sebuah sikap yang menjunjung tinggi keadilan dan ketentraman hati. 

Lalu membunuh seseorang atau makhluk lain apakah termasuk dalam sebuah kebijakan ? 

Bijak bukanlah sesuatu yang selalu ditampilkan sebagai kebaikan untuk semua sisi, melainkan mengedepankan peradilan bagi semua pihak. 

Jika seorang kriminal pembunuh berantai yang sudah membasmi puluhan manusia secara acak, maka kebijakan untuk mengeksekusi mati orang tersebut tentu bukan suatu keburukan meskipun mungkin ada pihak yang merasa diperlakukan tidak baik atau adil dalam kebijakan tersebut. Namun keadilan yang menyeluruh dan ketentraman adalah fokus dari kebijakan, bukan spesifik untuk pihak tertentu dan tidak untuk yang lain. 

Jadi, jika dasar bersikap adalah hal yang sekompleks itu, maka sikap yang merupakan hasil jadi yang ditampilkan adalah apa yang seharusnya benar-benar tampil. Tentu saja hal ini kemudian menjadi dinamis sesuai dengan situasi ataupun peristiwa yang terjadi. 

Tentu saja kembali lagi ini adalah apa yang ada dipikiran saya yang mungkin belum tepat atau bijak dalam berpikir, karena memang ini terlalu kompleks dan menyita banyak waktu untuk memikirkan dan merangkai serpihan-serpihan dari ceceran pengetahuan.

Tapi sejauh ini saya rasa pikiran saya ini cukup bisa diterima dan bisa dijadikan bahan untuk berpikir lebih jauh lagi. Dan saya pikir anda yang membaca hingga baris ini adalah orang yang gemar berpikir meskipun masih suka “ngecheat” dengan membaca pikiran orang lain. Ya silahkan diresapi.