Perlukah Mempertahankan Adat dan Tradisi ?

Perlukah Mempertahankan Adat dan Tradisi ?

Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai budaya, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang mengatur tingkah laku manusia antara satu sama lain yang lazim dilakukan di suatu kelompok masyarakat.

Dan kebiasaan kebiasaan tersebut kedepannya menjadi sebuah tradisi yang jika terus dilakukan dari generasi ke generasi disebut Tradisi turun temurun. 

Namun pertanyaannya, Perlukan mempertahankan adat dan tradisi yang tentu akan sangat berkaitan dengan budaya ? 

Adat Dan Tradisi

Baik, di kesempatan kali ini mari bersama kita bahas secara mendetail dari sudut pandang sederhana. 

Adat merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat pada saat itu untuk mempermudah kehidupan dan akan berubah seiring perkembangan jaman, percampuran budaya dengan seiring dengan meningkatnya pola pikir. 

Adat Berpakaian

Seperti misalnya adat mengenai cara berpakaian, kita bisa melihat bagaimana perbedaan cara berpakaian orang jaman dulu dengan orang jaman sekarang. Beda kan ? Kenapa ?

Sederhananya hal ini terjadi karena kebiasaan dan kemudahan itu tadi, dimana jaman dulu orang bisa dengan mudah karena kebiasaanya untuk mengenakan berlapis lapis kain untuk membedakan kasta status sosial, terkait aturan kerajaan atau aturan pemerintahan, iklim dan kebiasaan hidup pada saat itu serta pola pikir manusia pada jaman tersebut yang masih harus dibedakan secara status sosial dan cara berperilaku.

Hal ini kerap kaitannya dengan identitas, baik pribadi, maupun kelompok. 

Namun karena manusia pada dasarnya membutuhkan kemudahan, dan pola pikir berkembang, maka perubahan itu terjadi seiring dengan pertukaran dan percampuran budaya yang terus terjadi sehingga manusia tidak perlu lagi mebedakan status sosial, tidak perlu ribet harus pakai berlapis baju dan juga kebutuhan aktivitas yang terus berubah.

Pada kehidupan lampau dimana masyarakat masih lebih banyak beraktivitas di ladang, maka baju yang digunakan pun hanya selembar kain rompi untuk menutupi kulit dari terik panas matahari namun tidak membuat si penggunanya merasa terpanggang kegerahan. Atau yang ada di dalam pemerintahan menggunakan baju lapis lengan panjang dan memakai egenap aksesoris lengkap dengan senjata yang terselip di pinggang. Karena memang kebutuhan pada saat itu ya seperti itu. 

Pola hidup yang seperti itu sudah tidak lagi dilakukan oleh sebagian besar orang dan membuat cara berpakaian orang masa lalu tersebut menjadi sebatas Pakaian Adat dan memang sudah seharusnya begitu, masuk museum untuk dikenang, bukan untuk terus di aplikasikan.


Kemarin ada satu dialog di sinetron India yang menurut saya bagus. Seorang Ibu menasehati Adiknya yang merupakan ibu dari beberapa anak yang begitu teguh mempertahankan tradisi dan adat leluhur mereka. 

"Untuk apa mempertahankan Adat dan Tradisi jika mereka hanya membuat hidupmu susah ?"

Menurut saya kalimat tersebut memang tepat, bahwa kita tidak perlu mempertahankan kebiasaan (Adat) orang masa lalu yang memang sudah tidak relevan lagi untuk dilakukan pada jaman ini karena hanya akan mempersulit pola kehidupan. Misal saja cara berpakaian, pakaian adat tidak akan membiarkan kita melakukan aktivitas dengan baik dan akan merepotkan.

Perilaku

Adat perilaku terkait dengan norma sosial dan aturan yang berlaku pada masa nya di setiap kelompok masyarakat. Dan erat kaitanya pula dengan kepercayaan. 

Di Jawa sendiri ada banyak sekali aturan mengenai adat perilaku yang kemudian disebut sebagai Adab. Semisal saja, Tidak boleh bicara saat makan, yang tentunya hal ini tidak bisa lagi diterima karena kebiasaan saat ini adalah makan bersama sambil ngobrol.

Kebiasaan ini sering dikaitkan dengan kepercayaan leluhur bahwa jika melakukan ini makan akan terjadi itu. Dan karena ini erat kaitannya dengan kepercayaan, maka hal itu bisa saja terjadi bagi orang yang percaya. 

Kepercayaan

Kepercayaan juga merupakan sebuah adat dan tradisi manusia jaman dulu yang kemudian dikaitkan dengan perilaku dan cara hidup. Mempercayai adanya sebuah energi di luar sana yang mengontrol setiap kejadian di langit dan bumi merupakan anggapan orang-orang pada jaman dulu yang anehnya masih terus dipertahankan dan dipaksakan relevan hingga saat ini.

Jika melihat dari sejarah peradaban, orang-orang jaman dulu cenderung mempercayai adanya kehidupan langit yang menjadikan mereka memuja benda-benda langit seperti Matahari, Bulan, Bintang dan semacamnya. Untuk mempermudah penyebutan dan pengelompokan karakter, akhirnya dibentuklah pendewaan yang masing-masing menjadi perwakilan untuk sebuah atau beberapa karakter. 

Kemudian seiring berkembangnya pola pikir manusia, pendewaan yang begitu banyak dipersingkat dengan menjadikan satu entitas baru yang lebih tinggi yakni Tuhan. Dan pola pikir ini yang masih dipertahankan hingga sekarang, yang padahal ini merupakan peradaban lampau yang seharusnya sudah ditinggalkan.

Seperti yang disebutkan di point sebelumnya, Kepercayaan ini yang mempengaruhi pola pikir manusia untuk berperilaku dan memperlakukan sesuatu. Dan jika kita cocokkan dengan nasihat si ibu India yang tadi, maka sebenarnya hal ini pun seharusnya sudah tidak dipertahankan karena hanya akan membatasi perilaku manusia. 

Kepercayaan memiliki kecenderungan untuk membatasi dalam banyak hal, baik sosial maupun mental.

Orang yang memiliki kepercayaan tertentu akan beranggapan  terhadap sesuatu yang bisa saja itu tidak terjadi atau tidak benar. Misal saja, kepercayaan terhadap adanya kehidupan langit dimana disana merupakan tempat yang akan dituju setelah manusia mati. Sejauh peradaban modern dengan semua penelitian ilmiahnya belum pernah menemukan keberadaan dan kebenaran yang masuk akal dari teori kepercayaan tersebut.  Adapun ditemukan banyak sekali benda-benda langit dan planet yang sejauh ini belum ada yang memungkinkan untuk disinggahi atau dihidupi manusia karena jauhnya jarak atau tidak cocoknya kondisi alam yang ada disana.

Namun kepercayaan yang turun temurun ini terus diterapkan entah dengan tujuan apa yang pada dasarnya tidak akan memberi kemudahan dalam kehidupan manusia. 

Kita bisa melihat daftar negara-negara maju dari segi apapun merupakan bangsa yang tidak lagi mengikuti tradisi kepercayaan leluhur yang hingga saat ini tidak ditemukan kebenaran dan keberadaannya. Kenapa demikian ? 

Dengan melepaskan tradisi kepercayaan tersebut sama dengan melepaskan belenggu batasan untuk menciptakan kemudahan-kemudahan baru yang justru akan membuat kehidupan manusia jauh lebih sederhana. 

Apa yang terjadi jika mempertahankan Adat dan Tradisi ?

Ada begitu banyak kasus yang terjadi pada kelompok yang tidak mau melepaskan tradisi, dan garis besar yang bisa diambil adalah satu benang merah yakni "Tidak ada Kemajuan", bahkan cenderung mengalami kemunduran.

Dan Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak mau melepaskan tradisi sehingga sampai hari ini pun Indonesia tidak tercatat sebagai Negara maju.

Memang, Indikator maju dan tidaknya sebuah negara itu tidak diukur melalui tradisi dan adat serta budaya, namun kembali lagi bahwa hal itu semua yang mempengaruhi perilaku dan pola pikir yang membentuk maju dan tidaknya peradaban di suatu negara.

Beberapa waktu lalu, Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) telah mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang. Bersama dengan Cina, Brazil, India, dan Afrika Selatan, Indonesia pun dinyatakan sebagai negara maju dalam perdagangan internasional (ada yang menyebutkan bahwa ini berkaitan dengan hutang piutang internasional).

Yang padahal pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat kecil, yaitu di level 5%. Jika diurutkan, Indonesia menempati posisi ke-120 dari 200 negara. Pendapatan per kapita Indonesia yang menjadi indikator World Bank pun masih sebesar US$3.840 dan termasuk kategori kelas menengah-bawah, menegaskan kalau Indonesia masih kukuh sebagai negara berkembang.

Seperti diketahui, negara maju memiliki karakteristik yang berkebalikan dengan negara berkembang. Selain canggih secara teknologi, sehingga memungkinkan negara tersebut untuk melakukan banyak hal dan mendukung persaingan antarnegara, negara maju juga sejatinya harus memiliki kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Mengingat ini akan berpengaruh pada produktivitas dan daya saing yang tinggi pula. Nah, apa menurut kalian Indonesia sudah memiliki karakteristik ini?

Dan pertanyaan terakhir, tanyakan ini pada diri anda sendiri, Perlukah Mempertahankan Adat dan Tradisi ? dan Apakah selama ini anda menjalaninya ?