
Sebelum Merantau, Ini Yang Harus Anda Ketahui
Hai lagi. Hari ini kita akan bahas mengenai Merantau. Ini bukan soal film yang dibintangi Iko Uwais, tapi soal gaya hidup orang Indonesia.
Namun sebelum itu kita jabarkan dulu apa itu merantau.
Pada dasarnya merantau ini merupakan budaya yang digunakan oleh suku Minangkabau. Rantau ini untuk menyebut daerah diluar Minangkabau, sehingga merantau (Pergi ke tanah rantau) merupakan aktifitas orang Minangkabau pergi ke daerah luar Minangkabau.
Namun seiring berjalannya waktu, kemudian arti dari merantau sendiri sudah dialih fungsikan untuk menyebut suatu tindakan pergi ke kota dan digunakan oleh (mungkin) semua suku di Indonesia. Umumnya untuk menyebut sebuah perjalaan dari suatu tempat (Desa) menuju ke tempat tertentu (Perkotaan) dengan berbagai maksud dan tujuan, dan umumnya untuk urusan pekerjaan atau mencari uang.
Di Internet, ada banyak sekali bahasan mengenai Merantau ini dan kita sebagai pembaca artikel di internet pun harus mengerti apa maksud dan tujuan penulisan artikel tersebut.
Artikel-artikel dari sumber sumber media besar umumnya menjadi rujukan karena dianggap kredibel untuk menyampaikan berita, dan ini merupakan jebakannya. Kita musti sadar bahwa siapapun yang menulis artikel pasti manusia yang punya background dan pandangan sendiri, sehingga mungkin selalu ada maksud dari penyampaiannya.
Memang, setiap artikel bisa disebut informatif, namun apakah semua informasi yang disampaikan adalah kebenaran ? Atau hanya sekedar mendukung sebagian pandangan orang, pandangan pasar semata hanya untuk mendapat trafik dan penghasilan dari iklan ?
Jika kita mengetik kata Merantau di kolom pencarian Google, akan begitu banyak artikel yang muncul dari sumber-sumber web besar yang beberapa saya buka isinya mendukung gaya hidup Merantau dan keuntungan jika anda merantau.
Salah satu artikel dari IDN Times Dan karena gaya hidup orang Indonesia memang merantau, maka sudah dipastikan artikel seperti itu akan masuk ke ranah pasar pembaca Indonesia.Merantau Berbeda dengan Mengembara
Merantau
Mengembara
Mengembara merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau lebih dari
suatu tempat ke tempat lain dengan tanpa tujuan atau tempat tinggal tertentu.
Persamaan istilah dengan Mengembara yakni berkelana, jalan-jalan. (Sumber
KBBI)
Baru-baru ini lebih dikenal dengan nama Back Packer.
Sampai
disini seharusnya anda tidak salah dalam menyikapi arti kata merantau hanya
untuk sekedar pembelaan diri dan pembenaran dari pola pikir anda.
Tradisi Merantau
Sedari anda kecil mungkin kata ini sudah digunakan untuk menyebut sebuah tindakan perpindahan dari desa ke kota untuk mencari nafkah, ilmu atau pekerjaan. Tapi mungkin juga anda tidak pernah berpikir sejak kapan tradisi ini berawal. Seperti halnya saya.Tradisi merantau adalah proses interaksi antara masyarakat Minangkabau dengan dunia luar. Melalui proses ini seseorang dapat belajar bagaimana cara menjalani kehidupan di luar daerah asalnya, Sumatera Barat.
Namun kembali lagi, Merantau yang kita kenal sekarang bukanlah merantau Minangkabau melainkan sudah menjadi tradisi semua suku di Indonesia. Yang awal mulanya entah sejak kapan.
Sedari kecil bahkan saya pun sudah direncanakan untuk akan merantau ketika saya menginjak usia remaja. Itu rencana orang tua saya dan mungkin juga orang tua anda pun demikian.
Ibu saya selalu berpesan begini, "Bantulah ibu, mumpung kamu masih dirumah".
Yang bahkan saat itu saya belum terpikir untuk pergi merantau. Namun karena semua saudara saya merantau, mungkin itu juga yang akan terjadi pada saya, pikiran orang tua mungkin sesimpel itu.
Dan ketika saya remaja, saya tidak juga merantau. Tetap dirumah menikmati kehidupan hangat bersama keluarga.
Apakah Tradisi Merantau Bagus ?
Untuk anda yang belum merantu dan punya pikiran untuk merantau, sebaiknya baca ini dulu sebelum semuanya terlambat.
Budaya merantau yang sudah ada berpuluh tahun di Indonesia, dan mungkin sudah dilakukan oleh puluhan juta orang Indonesia, tidak sepenuhnya bagus dan tidak pula sepenuhnya buruk. Namun, dari sekian puluh juta orang yang merantau di Indonesia, adakah salah satunya sudah masuk ke dalam daftar orang terkaya dunia ?
Jika kita membaca jutaan artikel di Internet mengenai benefit merantau, ada begitu banyak benefit yang bisa kita dapatkan saat merantau, dan dari jutaan artikel yang berbedar itu umumnya adalah copy paste jadi anda tidak perlu membaca hingga jutaan judul hanya untuk menemukan informasi yang sama.
Lalu kemudian, apakah benefit yang disebutkan itu benar adanya ?
Apa Saja Benefit Merantau ?
Beberapa point yang disebutkan sebgai benefit merantau diantaranya adalah mandiri, pinter masak, banyak relasi dll yang mari kita bahas apakah informasi tersebut benar atau tidak. Dan tentunya rujukan saya membahas ini berdasar dari pengalaman, pengamatan dan sesi penelusuran secara nyata.
Belajar Mandiri ?
Umumnya point utama dari merantau adalah melatih kemandirian, namun apakah benar bahwa jauh dari rumah membuat orang menjadi lebih mandiri ? Tidak.
Mandiri merupakan sikap yang terbentuk dari pola pikir, bukan dari kondisi yang terjadi saat itu. Baik, anak perantauan mungkin akan terlihat lebih mandiri daripada anak rumahan, tapi faktanya tidak selalu begitu.
Katakanlah anda sedang merantau demi tujuan menuntut ilmu entah di luar kota ataupun luar negri. Kemudian siapa yang membiayai anda ?
Jika jawaban anda adalah orang tua, lalu sikap mandiri seperti apa yang anda miliki jika masih menjadi beban hidup orang tua ? Sikap mandiri seperti apa jika masih nungguin kiriman bulanan orang tua hanya untuk bisa makan dan nongkrong di cafe ?
Mandiri bukanlah hidup sendiri dan jauh dari orang tua, melainkan sebuah sikap berani mengambil keputusan dan bertanggung jawab.
Dan menjadi mandiri tidak hanya bisa dilakukan ketika jauh dari rumah. Meskipun anda masih tinggal di rumah orang tua anda, tapi tidak menjadi beban orang tua dan bisa mencukupi kebutuhan sendiri adalah sikap mandiri, apalagi jika anda mampu mencukupi kebutuhan orang tua dan seisi rumah.
Belajar Menghitung Keuangan ?
Katakanlah anda merantau untuk bekerja. Maka dengan begitu anda harus mulai belajar menghitung keuangan anda mulai dari pemasukan hingga pengeluaran tak terduga. Dan faktanya hal tersebut tidak hanya terjadi ketika anda merantau. kalaupun anda dirumah dan memiliki pekerjaan, maka menghitung keuangan anda adalah mutlak urusan anda. Dan sudah bisa dipastikan meskipun tinggal bersama orang tua, anda tidak akan melibatkan orang lain dalam menghitung keuangan anda, apalagi melibatkan adik anda.
Jadi untuk menghitung keuangan anda tidak perlu merantau.
Pintar Masak ? Ayolah
Kondisi anda hidup diperantauan akan membuat anda pintar masak ? Sama sekali tidak.
Demi mengatur keuangan akhirnya memaksa anda untuk belajar masak dengan tujuan mengurangi pemborosan biaya makan. Yang mana hal itu tidak akan pernah terjadi.
Orang cenderung akan mempelajari apa yang menjadi minat, dan akan meninggalkan atau mencari metode termudah untuk mengatasi masalah yang bukan minatnya. Anda harus sadar hal ini.
Sekarang pikirkan saja, anda harus berangkat kerja pagi pagi sekali, bagaimana mungkin anda menyempatkan diri untuk masak yang hanya untuk anda makan sendiri ? Apa itu masuk akal ?
Anda pulang kerja sore hari bahkan malam ketika ada lemburan, lalu sampai ke kontrakan/kost anda mulai menyiapkan bahan makanan untuk anda masak ? Omong kosong.
Kondisi lelah seharian bekerja tidak akan membuat anda mampu untuk memasak yang hanya akan anda makan sendirian. Tidak akan pernah.
Apalagi warung makan, restoran hingga pesan makanan onlen sudah ada dimana-mana. Dan itu bisa anda lakukan dimana saja bahkan dirumah.
Belajar masak pun bisa dilakukan dimana-mana dan itu yang membuat anda jadi pintar masak, bukan karena merantau kemudian jadi pintar masak.
Mencicipi Masakan Khas daerah setempat ? Omong kosong apalagi ini
Untuk mencicipi masakan asli suatu daerah tidak harus dengan mengorbankan seluruh waktu anda untuk menetap di daerah tersebut. Dalam kegiatan wisata kuliner, kita bisa mencicipi seluruh masakan khas suatu daerah seluruh Indonesia. Dan hal itu tidak akan mungkin anda lakukan ditengah kehidupan anda merantau. Karena anda akan terjebak di daerah yang sama dalam kurun waktu tertentu sesuai dengan apa tujuan anda merantau, misal kontrak kerja, masa kuliah atau masa dinas pekerjaan.
Anda hanya akan mencicipi makanan satu dua daerah jika anda merantau.
Banyak Relasi ? Oh ya ?
Lingkungan perkotaan umumnya menjadi heterogen karena ditempati oleh orang-orang dari banyak daerah yang berbeda. Dan konon katanya kehidupan yang seperti ini akan bagus untuk seseorang bisa berkembang dan sukses. Bahkan ada yang menyebut bahwa perantau memiliki peluang sukses lebih tinggi, karena dinilai lebih mandiri dan handal menghitung keuangan. Namun kenyataannya ?
Lingkungan anda terbatas.
Pada dasarnya manusia itu makhluk yang homogen, mungkin karena berasal dari spesies homo sapien. Yang artinya manusia seperti anda hanya akan mencari lingkungan yang sesuai dengan minat anda. Jika anda seorang pekerja di perantauan, tidak ada kasusnya kemudian anda berelasi dengan konglomerat daerah setempat hingga kemudian membuat anda menjadi konglomerat.
Jika hanya sekedar kenal dan nongkrong bareng, itu masih mungkin terjadi, namun hanya akan sebatas itu. Para orang kaya ini pun akan memisahkan mana urusan bisnis dan mana urusan tongkrongan, tidak ada ceritanya kemudian seorang perantauan yang kerja di pabrik memiliki relasi dari pemilik Mc Donald.
Memang, memiliki banyak relasi dalam arti umum itu masuk akal karena ketika anda merantau maka anda akan mendapatkan lingkungan baru dan juga orang-orang baru. Namun yang perlu diingat adalah orang-orang baru ini adalah orang dengan kondisi yang sama dengan anda, misal teman satu kerjaan atau tetangga kontrakan.
Dan harap berhati-hati dalam memilih lingkungan, karena penghasilan orang-orang disekitar anda akan mempengaruhi besaran penghasilan anda.
Sampai disini, point yang disampaikan internet mengenai benefit merantau ada yang benar ?
Banyak Pengalaman ? yakin ?
Perlu anda pahami bahwa ketika anda merantau demi pekerjaan atau suatu urusan yang mengharuskan anda terjebak lama dalam suatu tempat, itu tidak akan membuat pengalaman anda menjadi banyak dan menyenangkan. Disaat orang lain bisa dengan mudah bepergian ke 13 negara dalam waktu lima hari, dan anda masih meringkuk di kamar kost yang sama dan mengaku punya banyak pengalaman ?
Berapa kali anda bisa keluar kota dalam satu minggu ? Hal yang seperti itu membaut anda mengaku punya lebih banyak pengalaman ?
Perlu anda ketahui bahwa sebelum mengambil satu keputusan, maka anda harus mengerti mengenai konsekwensi yang akan anda tanggung dan mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya. Dan untuk mengantisipasi hal itu, ada baiknya anda melihat beberapa kerugian yangakan anda dapatkan ketika anda merantau.
Kerugian Merantau
Sebelum anda merantau atau memutuskan untuk meninggalkan keluarga terkasih, coba pikirkan lagi dan baca bagian ini untuk menentukan masa depan anda. Karena hidup hanya sekali, maka jangan sia-siakan hidup anda yang hanya sebentar dengan menjualnya untuk sesuatu yang bahkan akan merugikan anda.
Kehilangan Kehangatan keluarga
Ini terjadi jika keluarga anda memang harmonis dan hangat, jika tidak, maka tidak akan ada yang hilang. Dan mungkin anda akan kehilangan kesempatan untuk mengembalikan kehangatan keluarga anda jika anda justru meninggalkannya.
Kasus seperti ini banyak sekali terjadi, bahkan kerabat saya pun mengalami hal tersebut. Tidak pernah ada kehangatan, karena tidak pernah ada orang. Semuanya pergi merantau menyisakan dua orang renta yang tidak berdaya, hingga kematian kemudian mengembalikan anak-anaknya. Untuk sesaat dan seolah tidak kenal satu sama lain, mereka pulang hanya untuk menguburkan jenazah orang tuanya dan pergi lagi setelah itu. Miris.
Kita hanya memiliki satu keluarga, meskipun para perantau menghibur diri bahwa mereka punya keluarga baru disana, itu semua hanya untuk menghibur diri, dan anda tau ? Sesuatu yang bersifat hiburan biasanya palsu. Kita hanya memiliki satu keluarga yang di dalmnya ada kehangatan murni dan ketulusan asli serta keterikatan batin yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Dan anda akan kehilangan semua itu ? Merelakan semua itu hanya karena dorongan tradisi atau pola pikir yang keliru ? Harusnya anda menjadi korban ?
Kehilangan Kebersamaan
Seketika kita memutuskan untuk meninggalkan rumah, ada beberapa hal yang kita tinggalkan selain rumah itu sendiri. Yakni keluarga, teman, lingkungan dan khidupan di dalamnya. Kita akan kehilangan semua itu dan tidak akan pernah mendapatkan gantinya.
Banyak orang yang demi bekerja di luar kota atau bahkan luar negeri, mereka harus merelakan sanak keluarganya menghilang dari kehidupannya selamanya. Bahkan ketika orang tua dirumah meninggal, tidak bisa pulang untuk melihat wajahnya untuk yang terkakhir kalinya. Kita meninggalkannya, menyiksanya dengan kerinduan dan membunuhnya dengan kesepiannya serta menguburkannya tanpa melihatnya. Apakah anda salah satunya ?
Tau tau muncul kabar bahwa salah satu teman main dulu, meninggal. Anda melewatkan banyak sekali hal yang mungkin akan lebih seru jika dilakukan bersama dan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang tidak akan pernah menempatkan anda di jajaran 5 besar orang terkaya Indonesia.
Kehilangan Moment Berharga
Ada banyak sekali moment indah yang terjadi dalam satu keluarga yang itu semua tidak akan bisa digantikan oleh apapun. Dan anda kehilangan semua itu.
Para perantau biasanya mudik setahun sekali di saat ada perayaan agama. Dan mereka pulang dengan membawa segudang cerita pengalaman terkait pekerjaannya. Seru sekali. Hingga lupa untuk bertanya kondisi dirumah, keluarga, kesehatan orang tua, pola makan orang tua seperti apa hingga apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Yang ada dalam pikirannya hanyalah pekerjaan dan dirinya sendiri yang penuh pengalaman.
Belum sempat ada waktu hangat dengan keluarga, ia sudah harus kembali ke tanah rantau untuk kembali bekerja. Dan begitu seterusnya setiap tahunnya.
Menyiksa Orang Tua
Saya pernah merantau selama 1 tahun dan 3 bulan. Ibu saya komplain karena saya tidak menghubunginya dan hal itu membuat ibu saya kesepian karena saat itu semua anaknya pergi yang sebelumnya saya selalu dirumah.
Dan saya mengerti betul bagaimana perasaan ibu saya ketika melihat sodara saya yang baru pulang dan harus pergi lagi karena harus bekerja. Belum lagi mengingat sodara saya ini tidak bisa pulang setiap tahun disaat hari raya.
Saya melihat kekecewaan dan kesedihan dimata ibu saya tatkala harus kembali melepaskan kepergian anaknya sebelum kerinduannya mereda. Dan itu yang selalu saya lihat setiap sodara saya ini pulang. Bukan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya melainkan perasaan sedih karena ia tahu kepulangannya hanya sebentar. Bahkan sempat bilang begini "Gak usah pulang sekalian kalau cuma sebentar!". Saking kesalnya.
Bagaimana tidak, sodara saya ini adalah anak kesayangan ibu saya yang sudah merantau sejak ia masih sekolah. Saat sekolah ia tinggal di asrama dan hanya pulang seminggu sekali. Pasca lulus sekolah sodara saya ini langsung pergi ke kota untuk mencari pekerjaan dan hanya bisa pulang setahun sekali itupun tidak tentu, kadang tidak pulang. Ada begitu banyak moment lebaran yang tidak kita rayakan bersama.
2019 kemarin saya bawa pulang kerumah untuk saya pekerjakan. Dan anda tahu? Saya kali pertama melihat ibu saya bahagia sejadi-jadinya kala itu setalah sekian lama. Dan ditambah lagi kita bisa kumpul keluarga dengan lengkap, kemudian liburan bersama. Saya tau betul, perasaan orang tua yang ditinggalkan anaknya akan selalu tersiksa, apalagi jika tau kondisi anaknya diluaran sana tidak baik-baik saja.
Kehilangan Eksistensi
Tidak jarang karena terlalu lama merantau membuat seseorang kemudian tidak dikenal di tempat tinggalnya sendiri, tidak ada yang tau keberadaanya bahkan tidak ada yang mengingat bahwa ia hidup.
Kasus seperti ini sering terjadi bahkan ke sodara saya sendiri. Dimana tidak ada yang ingat dia, dan ketika namanya disebut bahkan tidak ada yang kenal. Bahkan tetangga dekat pun sampai lupa bahwa ia pernah ada. Miris.
Eksistensinya tidak dianggap atau tidak diingat. Tersisih dari tempat nya sendiri karena terlalu lama meninggalkannya. Anda kah disini pun seperti itu ?
Tidak Penting
Orang yang meninggalkan rumah dan semua yang meliputinya, maka tidak penting lagi. Tidak terlibat dan berkontribusi terkait perkembangan daerah, tidak bayar pajak, tidak membantu perekonomian masyarakat di daerahnya dan tidak memiliki peran apapun. Tidak berguna.
Ada dan tidaknya tidak mempengaruhi apapun, bahkan begitu juga ditempat barunya. Tidak memiliki kuasa untuk membuat perubahan karena memang tidak ada haknya sebagai pendatang yang menumpang. Eksistensinya tidak lebih dari hanya sekedar ada, entah dimana.
Penyumbang Kekacauan
Di Indonesia kita ada satu tradisi lagi yakni mudik yang selalu terjadi setiap tahun di masa sebelum lebaran. Dan umumnya karena menumpuknya ribuan orang mudik dalam waktu bersamaan, terjadilah rekayasa lalu lintas atau apapun lah itu sebutannya untuk mengatur arus dan rute kendaraan. Umumnya kemacetan masih sering terjadi setiap tahun, hingga kecelakaan.
Dan kasus kekacauan terbaru adalah saat pandemi Covid, dimana sejak covid melanda, banyak perusahaan melakukan efisiensi dengan merumahkan para pegawainya. Sehingga banyak orang akhirnya memilih untuk pulang kampung halaman karena tidak sanggup untuk bayar sewa kost. Dan kondisi ini yang menyumbang penyebaran covid hingga penuh seluruh Indonesia yang hanya berawal dari satu kota besar Jakarta. Meskipun sudah ada larangan mudik, namun tetap saja itu tidak membuat para perantau ini sadar diri dengan alasan bahwa, "Siapa yang tanggung beban saya disini jika tidak bekerja ?". Dan pertanyaan saya, selama puluhan tahun anda kerja duitnya kemana ? Kerja apa dikerjain ?
Bahkan tidak sedikit daerah yang menolak para pemudik masuk. Setidak penting itu memang, di kota ditelantarkan, dikampung halaman ditolak.
Dan benar saja, banyak para pemudik yang notabene adalah perantau ini yang memang datang membawa virus dan menyebarkannya di daerah asalnya. Bukankah itu memuakkan ?
Dampaknya, semua orang harus menanggung akibatnya. Sekarang kemana-mana sulit dan penuh dengan aturan-aturan baru yang menyulitkan untuk melakukan sesuatu.
Pola Pikir Lampau
Merantau adalah pola pikir lampau yang hingga saat ini belum dilepaskan oleh masyarakat Indonesia. Dan tidak pula membawa kemajuan apapun pelaksanaannya. Bahkan beberapa waktu silam, perantau yang masuk ke Jakarta dibatasi hingga tidak diterima dengan dasar bahwa sudah bukan saatnya lagi memenuhi satu daerah dengan anggapan untuk merubah nasib.
Gubernur kala itu berpesan untuk tetap dirumah dan kembangkan daerah masing-masing dan itu yang seharusnya anda lakukan. Bukan memadati kota besar yang sudah begitu padat untuk mengadu nasib kemudian mengeluh macet. Tidak akan macet jika anda tidak memenuhi populasi satu kota dan tetap tinggal di daerah masing-masing.
Uang, Rejeki dan kehidupan tidak hanya ada di kota besar, dimanapun ada. Jadi tidak perlu lagi berburu uang kota yang jadi rebutan jutaan orang dalam satu tempat.
Mungkin konsep perantauan masih sejalan jika terjadi di tahun 80 an dimana saat itu masih begitu sulit mengakses informasi. Dan di kota mungkin aksesnya lebih mudah. Dan sekarang semua itu sudah tidak berlaku. Anda bisa mengakses segala macam informasi yang anda butuhkan bahkan sama sekali tidak anda butuhkan dengan hanya menggerakan jempol. Semudah itu. Lalu ngapain harus jauh-jauh merantau jika semua itu bisa dilakukan dirumah bahkan sembari rebahan ?
Beberapa tahun lalu ketika saya masih remaja, sering sekali bahkan hampir tiap hari saya dielu-elukan karena masih juga tinggal serumah dengan orang tua, sementara teman-teman sebaya sudah pergi jauh melanglang buana bahkan ada di negara tetangga. Sempat down juga kala itu mengingat saya memang tidak memiliki apapun. Bahkan sering kali saya harus minder ketika salah satu teman perantauan saya pulang dan sudah punya duit. Apalagi sempat ada pertanyaan kala itu "Kok lu gini-gini aja ? gimana sik". Dan hal itu tidak hanya datang dari satu arah, melainkan orang terdekat pun melakukan itu yang seolah keputusan untuk tetap dirumah adalah salah.
Namun hal itu tidak membuat saya kemudian berpikir kolot untuk segera mencari pekerjaan diluar sana yang sudah pasti sangat sulit untuk mendapat penghasilan besar.
Akhirnya mau tidak mau saya harus melihat peluang yang ada, yakni memanfaatkan internet dengan mempelajari hal baru dan mulai membuka jasa.
Dan itu membuat saya tetap stay dirumah dan tidak minder lagi. Bahkan bangga untuk menjadi penyambut orang-orang mudik dalam artian khusus. Saat itu saya berpikir, ngapain harus jauh-jauh jika hanya untuk mendapatkan uang ? Ngapain harus meninggalkan segala yang ada hanya untuk mendapat uang yang tidak seberapa ?
Toh sampai sekarang juga semua teman saya yang merantau belum ada satupun yang masuk jajran orang terkaya dunia. Dan orang-orang terkaya dunia tidak merantau. Catat itu.
Jadi apa faedahnya merantau jika tidak akan menjadikan anda apapun selain mendapati kerugian yang sudah saya lampirkan diatas ?
Sebelum anda merantau dan jadi menyedihkan, pikirkan ini.
Jika pandangan anda tentang merantau adalah untuk mengadu nasib di tempat lain atau kota besar, maka singkirkan pikiran itu. Namun jika anda berpikir merantau adalah berpetualang, maka lakukanlah itu untuk menambah pengalaman, menjadi pengembara, back-packer dan melanglang buana hingga ke ujung dunia. Dan segeralah kembali sempatkan waktu untuk keluarga tercinta, terutama orang tua.
Ingat, tidak ada pengganti untuk kerabat, keluarga dan orang tua, dan sebelum semua itu hilang, maka pikirkanlah. Jangan hanya memikirkan diri sendiri dan tertipu dengan keinginan serta kondisi sesaat yang justru berakibat sesat.
Abaikan gunjingan orang yang masih bodoh dengan pikiran purbanya dan buktikan bahwa jalan sukses tidak datang dari mulut dan pola pikir mereka.
"Eh Bro, lu gapernah merantau, trus bebacot, emang lu ada diurutan berapa di daftar orang terkaya dunia ?"
Lah gw dirumah mulu ya wajar ga masuk ke daftar itu, lah elu udah seumur-umur merantau masih juga gak masuk daftar. Gak nyadar-nyadar pula
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan