Kerja Vs Penghasilan

Kerja Vs Penghasilan

Ketika sekolah dulu, khususnya SMK yang sempat saya alami meskipun sebentar, ada istilah Keahlian yang berhubungan dengan pekerjaan. Dan memang, SMK menjanjikan siswanya berani tampil dalam dunia kerja setelah lulus sekolah. Makanya, disana siswa mendapat didikan dan dituntut untuk disiplin supaya memenuhi kriteria dalam persaingan dunia kerja khususnya Industri. 


Bahkan sempat suatu hari salah seorang guru yang cukup penting ditempat saya sekolah mengatakan dengan lantang di depan kelas seperti orasi lengkap dengan jari menunjuk ke ruang kosong di depannya dengan kalimat penyemangat seperti ini 

"Kalian di didik disini adalah untuk supaya disiplin dan patuh supaya bisa bersaing dalam dunia industri dan bisa masuk ke perusahaan-perusahaan besar!". 

Dan hal itu memang wajar ketika diterima oleh seluruh siswa meskipun seketika itu saya bilang "Sesat" ke salah satu teman saya disana, dan saya melihat ekspresinya menolak ucapan saya dengan kebingungan atau gak ngerti.

Memang bahkan sebelum masuk ke SMK, penekanan bahwa keharusan "Bekerja" atau memiliki pekerjaan adalah mutlak dan bandingannya adalah "Pengangguran" yang akan menjadi beban keluarga hingga Negara (*Padahal tidak pernah ada sejarahnya pengangguran mendapat upah di Negeri ini).

Intinya adalah seseorang harus punya pekerjaan, dan itu berbanding lurus dengan taraf pendidikan orang tersebut. Kemudian muncul prinsip bahwa untuk bisa bekerja dengan baik maka syaratnya adalah memiliki sertifikat pendidikan yang tinggi. Bahkan saya pernah ditanyai beberapa waktu lalu oleh seseorang yang usianya sudah lanjut dan saya perkirakan ia kelahiran tahun 50 an yang berarti masih menggunakan pola pikir kuno dan saya sebut OT. Pertanyaannya begini ..

OT : Di Jogja ini ngekos ?

Gw : Iya

OT : Kuliah ? atau kerja ?

Gw : Enggak, main aja.

OT : Tapi kuliah ?

Gw : Enggak. Saya gak kuliah

OT : Lah kok gak kuliah ? Kan kalo kuliahnya tinggi nanti bisa dapet pekerjaan yang bagus..

Gw : Loh Itu pola pikir orang dulu... saya gak pake yang begitu gituu

OT : Loh ya bener toh 

Gw : Enggak

Gw juga gak ngerti kenapa penekanan si OT tsb ke arah sana bahwa saya seharusnya kuliah.

Dan kebetulan kemaren saya bahas ini bareng orang-orang rumah bahwa ada yang lebih penting dari "Kerja" dan malah selama ini jadi terlihat tidak penting karena mungkin dianggap sebagai imbas dari "Kerja" itu sendiri yakni "Penghasilan". 

Sementara untuk dapat penghasilan, ada yang namanya "Usaha" yang tentu akan menghasilkan perbedaan pandangan seperti "Kerja" maka akan menjadi "Pekerja" dan "Usaha" maka "Pengusaha" yang keduanya tentu akan memperoleh "Penghasilan" dengan mekanisme yang berbeda.

Mungkin akan terdengar sedikit ribet karena kerancuan dalam berbahasa, namun kita bisa melihat adanya perbedaan yang signifikan mengenai dua hal tersebut. Dan kita tidak akan membahas itu. Melainkan Kerja dan Penghasilan. 

Selama ini tuntutan di dalam masyarakat adalah ketika selesai sekolah maka haruslah kerja, setidaknya biar bisa mencukupi kebutuhan sendiri. Dan setelah beberapa kali ngobrol dengan para "Korban" doktrin itu memang mayoritas beranggapan bahwa "Malu" ketika nganggur dan sebaiknya mereka punya uang untuk bisa beli apa yang mereka inginkan dengan cara mendapat pekerjaan dan bekerja.

Dan ketika mereka sudah bekerja sekian lama, saya tanya... "Bisa keluar?" dan mereka menjawab ... "TIDAK".


Kita kembali ke masa sekolah dimana saya dulu ada di SMK. Disana kita dikasih mimpi dan pandangan bahwa bisa masuk dan kerja di ASTRA adalah sesuatu yang mengagumkan. Dan dicontohkanlah alumni disana yang berhasil mencapai mimpi tersebut dan menjadi "PEKERJA TETAP" disana. Tapi tidak pernah disebutkan berapa upahnya. Karena itu tidak penting mungkin, atau sebenernya nilai semisal 10 Juta ketika kita masih SMK akan terdengar begitu luar biasa. Tapi saya tidak mendengar ada penyebutan nilai itu disana kala itu. Dan ditahun itu sepertinya memang tidak menyentuh angka tersebut untuk taraf yang berhasil diambil oleh si Alumni tersebut. Tapi itu semua tidaklah penting, karena yang paling penting adalah bisa masuk dan menjadi PEKERJA disana (Makanya tidak disebutkan berapa besaran penghasilan yang bisa didapatkan).Dan otomatis akan menjadi teladan untuk para juniornya.

Berbekal hal itu, beberapa siswa yang taat dan patuh menjadi pribadi yang lebih teratur dan disiplin sementara yang lain saya anggap memang hanya figuran yang tidak memainkan peran penting sama sekali. Perlu dicatat bahwa peran utama dalam kisah saya adalah saya sendiri. Gausah iri, ini kisah saya.

Saya sendiri tidak tertarik sama sekali mengingat saya tidak suka OLI soal bau dan teksturnya, dan yang saya lirik malah bagaimana caranya bisa submit design motor ke Suzuki saat itu dan pasti dibayar mahal, sekali bikin duit terus berjalan atau kalau misal jual putus, duitnya bisa buat buka bengkel modifikasi motor. Dan untuk mencapai itu saya tidak perlu sekolah disana saya pikir. 

Maka dihari saat guru saya orasi depan kelas yang saya sebutkan diatas, hari itu juga saya keluar dari sekolah. Itu menjelang kenaikan kelas 3, jadi saya rasa cukup tau apa yang diajarkan disana dan menurut saya tidak menarik.

Beberapa waktu lalu saya samperin salah satu temen SMK saya yang cukup rajin dulu semasa sekolah buat minta nomor WA siapa tau bisa saling berkabar dan menyambung dengan teman2 yang lain kan mungkin bisa seru. Ketika saya bilang gurunya "Sesat", ya ke orang ini.

Ketika nyari alamatnya yang rupanya rumahnya sudah ganti, maka saya nanya ke orang sekitar yang siapa tau kenal dan ternyata cukup menarik ketika orang-orang tersebut bilang "Oh yang kerja di ****?". Saya pikir "Wah rupanya teman saya jadi orang hebat, pantesan aja rumahnya udah digedein".

Akhirnya diantarlah saya menuju rumahnya yang ternyata udah gak bareng lagi sama orang tuanya yang udah digedein tadi. 

Sedikit cerita kala itu karena kondisi kita sekarang sudah berbeda tentu dengan kebutuhan yang udah berbeda pula. Iya, teman saya sudah menikah dan punya satu momongan, jadi gak bisa ngobrol lama-lama. Beberapa temen dia sebut dan diceritakan sepenggal informasi yang ia dapat dari berbagai narasumber dan curhatan yang bersangkutan. Namun dalam sekelumit obrolan kala itu ada kalimat dia yang saya ingat yakni "Kita sebagai Lelaki, tugasnya ya sekolah sampai selesai, setelah itu kerja, gak kek elu, sekolah gajelas, idup lu sekarang gajelas". Iya, sebelumnya saya sampaikan ke dia kalau saya pengangguran. 


Beberapa hari setelahnya saya hubungi untuk sekedar berbagi informasi menarik dan peluang yang siapa tau dia tertarik,dan ini bukan MLM. Saya anti MLM. Namun belum sempat saya bahas itu dia pun sudah menolak tanpa nanya dulu kek apa kek atau sekedar basa-basi. Setelah beberapa waktu berlalu saya mencoba nanya kapan dia punya waktu buat sekedar ngopi atau jalan ke tempat temen yang lain, dan dia menjawab "Gw kalo libur ya gak ada duit. Dan kalo libur ya mending gunain waktu buat bareng anak bini, udah gada waktu buat hal-hal yang ga penting". Oke saya termasuk dalam hal tidak penting.

Jujur aja saya kecewa dengan pola pikir temen saya ini yang mengharuskan ia menjadi seperti itu. Meskipun mungkin saya harus mengakui bahwa mungkin dari sudut pandangnya, kebahagiaannya disitu dan itu merupakan kesuksesan baginya. Dan, setelah itu saya merasa dia menjauhi saya mungkin karena tidak adanya waktu, atau tidak ada manfaatnya bergaul dengan pengangguran seperti saya. 

Sementara ada salah seorang teman lain mengatakan kalau ijazahnya sama sekali tidak bisa digunakan untuk mendapat pekerjaan yang layak. Ya memang, sejauh saya tau dari banyak sumber bilang kalau ijazah SMA sederajat hanya mentok untuk posisi yang tidak menyenangkan. Ya memang begitu adanya karena ketatnya persaingan dalam mencari pekerjaan yang tentu belum sebanding dengan penghasilan. 

Tapi kembali lagi, penghasilan tidaklah penting melainkan punya pekerjaan adalah hal yang sangat penting dan wajib untuk Lelaki kata mereka. 

Bahkan beberapa waktu lalu ada salah seorang teman saya nyari kerjaan padahal punya penghasilan yang cukup baik dari nganggurnya, dan dia bilang Profesi tersebut merupakan syarat untuk bisa menikahi kekasihnya. Karena harus jelas ketika ditanya orang tua si calon. 

Yang padahal pas gw ditanya kerja apa sama bapaknya si "calon" gw jawab nganggur dan ok ok aja. Malah emaknya bilang, "iyah akhir-akhir ini memang lagi gaenak buat kerja, kita juga nganggur sekarang".

Kita harus sadar bahwa kita hidup dari penghasilan, bukan dari pekerjaan yang justru menghilangkan eksistensi kita dalam kehangatan keluarga, acara teman, liburan bareng dan nongkrong disiang hari.


Pandangan Kerja lebih penting seperti ini yang akhirnya memaksa lulusan baru harus cepet-cepet merantau mencari kerja dan mudik setahun sekali dengan cerita soal pekerjaannya yang terdengar luar biasa. Tentu, itu merupakan tuntutan yang selama ini berlaku dan mendarah daging dalam kehidupan remaja yang masih mudah sekali untuk di doktrin. Yang seharusnya sudah saatnya disadarkan bahwa yang penting bukanlah lu punya kerjaan, tapi berapa penghasilan yang lu bisa dapetin. Apalagi di era yang sudah semakin maju sekarang ini , main game aja bisa dapet duit puluhan hingga ratusan juta tiap bulannya, tentu pola pikir pencari kerja sudah sangat ketinggalan dan uzur yang sudah sepatutnya ditinggalkan. Khususnya untuk anak-anak muda yang baru-baru ini lulus sekolah. 

Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa profesi yang bagus akan menaikkan status sosial, tapi perlu diketahui juga bahwa penghasilan besar bisa lebih bermanfaat meskipun tanpa gelar profesi. Dan kalau memang butuh profesi yang setara dengan penghasilan besar, bisa tuh jadi CEO di perusahaan sendiri. 

Jika ada yang ngebatin "Emang lu siapa bacot doang? penghasilan lu berapa emang?

Dih gua pan nganggur.