
Apakah Logat Bisa Berubah ?
Setiap negara memiliki banyak suku dan daerah di dalamnya, tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia sendiri yang terbentang dari Sabang sampai Merauke memiliki banyak sekali daerah, saat ini tercatat ada 34 provinsi dan ada 514 kabupaten dan kota di dalamnya. Dan setiap kabupaten atau kota umumnya memiliki logat atau dialek atau aksen yang berbeda satu sama lain.
Seperti misal Cilacap dan Purwokerto yang masih satu rumpun ngapak misalnya, meskipun tergolong dalam satu bahasa ngapak, rupanya dialeknya pun memiliki perbedaan meskipun sedikit. Apalagi jika dibanding dengan Solo, Jogja atau Surabaya, sudah sangat jauh berbeda.
Lalu yang jadi pertanyaan, apakah logat seseorang bisa berubah ?
Sebelum masuk ke bahasan yang lebih jauh, ada baiknya kita memahami apa yang sebenarnya kita bahas disini yakni apa itu logat ?
Apa itu Logat ?
Logat adalah cara mengucapkan kata (Aksen) atau lekuk lidah yang khas yang dimiliki seseorang atau kelompok sesuai dengan asal daerah ataupun suku bangsa.
Munculnya logat itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu yang paling utama adalah suku atau daerah tempat lahir atau tinggal.
Misalnya orang Cilacap yang terlahir dan bahkan tinggal di Cilacap umumnya akan berdialek atau berlogat "Ngapak" yang merupakan bahasa sehari-hari di daerah tersebut dan menjadi bahasa Ibu disana.
Apakah Logat Bisa Berubah ?
Saya ada punya tetangga yang berasal dari Jawa Timur dan sudah menjadi tetangga saya selama 4 dekade. Tapi hingga sekarang logat Jawa Timur nya masih belum hilang dan tidak sepenuhnya berdialek ngapak.
Selain itu, ada juga yang datang dari Jawa Barat dan kita sudah bertetangga lebih dari 3 dekade, dan hingga saat ini logat nya masih berbau sunda, meskipun bahasa yang digunakan sudah ngapak.
Dan masih banyak kasus lain.
Lalu apakah ada kemungkinan logat bisa berubah ?
Beberapa waktu lalu saya berkenalan dengan salah seorang yang kebetulan ketemu di suatu tempat yang mengharuskan kita berada dalam satu ruangan. Terjadilah obrolan disana dan sedari awal saya mendengar beliau berucap saya sudah tau bahwa beliau ini bukan warga asli daerah tersebut yang kebetulan masih di daerah Cilacap.
Dan setelah berkenalan, rupanya benar, beliau ini asal Jogja yang padahal sudah 28 tahun tinggal dan bekerja di Cilacap. Dan beliau bilang juga bahwa di Jogja, logatnya sudah disebut "Ngapak", padahal di daerah ngapak sendiri beliau ini bahkan sama sekali tidak mendekati aksen ngapak.
Dan masih banyak lagi kasusnya.
Apakah Logat atau Dialek bisa dibentuk ?
Ada beberapa orang yang saya kenal, (karena saya tidak banyak kenalan) yang menggunakan dialek sangat kental dalam hal ini "ngapak", dimana itu memang dialek asli yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dan itu wajar mengingat orang-orang tersebut adalah warga asli daerah Ngapak yang bangga dengan bahasa dan dialek induk mereka.
Bahkan mereka tidak keberatan untuk menggunakan bahasa ngapak ketika semisal sedang berada di luar kota dan justru keberatan untuk menggunakan bahasa Indonesia. Dan memang ketika menggunakan bahasa Indonesia pun dialek ngapaknya masih sangat kental, dalam hal ini orang sering menyebutnya "Medok" (Pekat dan kental kebanyakan bumbu - KBBI).
Kenapa saya menyebut kata "Mereka" dan tidak melibatkan saya sendiri sementara saya juga warga lokal ngapak ?
Karena saya tidak bangga dan keberatan untuk berdialek ngapak apalagi jika berada di luar kota, bahkan di daerah sendiri saya lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia.
Hey bukannya itu budaya ? yang harus dilestarikan dan dibanggakan ?
Saya bukan budayawan.
Kenapa Dialek perlu dirubah ?
Diskriminasi
Ada begitu banyak kasus yang terjadi berdasarkan dari dialek seseorang atau suatu kelompok.
Di jakarta sendiri, mungkin ini hanya terjadi jaman dulu atau sampai sekarang masih ada saya kurang tau, untuk orang Jawa khususnya ada panggilan sendiri berupa "Jawir" yang menurut saya kurang enak di dengar. Entah untuk suku dan daerah lain saya kurang begitu paham ada atau tidaknya panggilan semacam itu.
Rasis
Perihal rasisme itu tidak akan pernah menemui ujung. Kebiasaan kita sebagai manusia adalah hidup berkelompok dan memiliki kecenderungan untuk bergabung dengan yang satu kelompok. Dan meskipun tidak selalu memusuhi kelompok lain, tapi selalu saja akan memisahkan diri dari kelompok yang berbeda.
Makanya banyak kampung-kampung yang isinya seragam berasal dari suatu daerah yang sama yang berada di beberapa pulau di Indonesia. Seperti di daerah saya tinggal pun ada suatu kelompok yang dimana kebanyakan warga di lokasi tersebut berasal dari Jawa Barat dengan bahasa dan logat kental Sunda nya. Dan itu terjadi dimana-mana.
Dan biasanya pula, ketika berhdapan dengan orang yang bukan berasal dari kelompoknya, manusia cenderung menggolongkan mereka ke dalam suatu kelompok dan dari situ timbul sekat pemisah berdasar suku.
Hal apa yang bisa mengubah Dialek ?
Bendahara Kata
Ini kaitannya dengan pembentukan logat di point sebelumnya.
Saya warga lokal ngapak yang sedari lahir hingga saat ini masih ditempat yang sama, namun memiliki banyak pengalaman yang mengkonfirmasi mengenai pembentukan logat atau dialek yang saya bahas disini.
Seringkali saya kenalan dengan orang (tidak banyak) dan tidak ada satupun yang langsung percaya dengan mudahnya bahwa saya warga ngapak, meskipun terjadi di Cilacap.
Seperti misal kasus kenalan saya di lokasi yang mengharuskan kami satu ruangan, beliau pun mempertanyakan keaslian kewargaan saya disitu. Dikiranya saya warga asing yang sedang liburan di Cilacap, lantaran logatnya tidak mencerminkan warga ngapak pada umumnya.
Belum lama ini saya ngobrol dengan telemarketing asuransi dan ketika konfirmasi tempat lahir, ia mempertanyakan soal logat yang saya gunakan. Beliau mengira saya sudah tinggal lama di suatu kota tertentu hingga tidak lagi terlihat aksen ngapaknya.
Dan rupanya si agen tersebut juga orang ngapak yang tidak tampak logat ngapaknya. Saya pertanyakan hal tersebut juga dong, dan beliau pun bilang bahwa ia sudah pindah ke Jakarta sejak kelas 1 SD dan tinggal disana hingga sekarang. Itu yang menurutnya membuat logat ngapaknya tidak ada.
Sementara saya hanya pernah ke bandung selama setahun dan hidup bareng orang jawa timur, jadi kalaupun logat saya harus berubah, maka aksen jawa timur yang harusnya saya serap.
Saya memiliki penilaian dari pengamatan yang sebatas lewat dari mata saya bahwa, Perbendaharaan kata juga akan mempengaruhi logat seseorang dan mengubah dialek.
Misalnya kalimat ini "Lu mau kemana ?"
Kalimat seperti itu saya rasa tidak digunakan dalam percakapan modern melainkan "Kemana lu?" atau "Mo kemana?". Silahkan lafalkan, nada yang dihasilkan dari hal se-sepele itu pun akan berbeda.
Nah kebanyakan dari orang yang saya kenal dengan logat kentalnya, tidak menggunakan susunan kata yang sering digunakan dalam bahasa pergaulan sehari-hari dan mungkin juga kurang melihat orang-orang melakukan percakapan dengan bahasa yang lebih modern dan tidak baku. Sehingga perbendaharaan kata yang dimiliki begitu sedikit dan hanya menggunakan metode translate dari bahasa lokal ke bahasa Indonesia.
Belajar
Melihat dan memperhatikan merupakan salah satu cara yang sangat baik untuk mempelajari sesuatu. Saya melihat perkembangan bahasa mulai dari film hingga sinetro tidak bermutu, tanpa perlu saya merantau dan tinggal atau pindah ke Jakarta sejak SD. Semua hal bisa kita pelajari dengan hanya melihat dan mempraktikan, dan hal itu tidak saya sadarai karena memang saya menyukai penggunaan bahasa yang universal.
Kebanyakan orang mengira saya orang Jakarta dilihat dari logatnya yang padahal saya yakin logat saya tidak akan sama dengan orang asli jakarta yang sudah sedari bayi menggunakan bahasa indonesia ala jakarta apalagi yang tebaru bahasa Jaksel.
Saya juga beberapa kali ngobrol dengan orang asli jakarta dan saya melihat ada beberapa perbedaan aksen yang digunakan oleh orang jakarta.
Sama halnya dengan ngapak Cilacap dan Tegal, sama-sama ngapak tapi ada penekanan-penakan tertentu yang membedakan serta istilah-istilah yang digunakan pun beda.
Misal jika di Cilacap kita bakal ketemu dengan kalimat pertanyaan "Madang rung ?" yang artinya Sudah makan belum ?, di tegal kita akan menjumpai pertanyaan "Wis mangan ~ ?" dengan nada mendayu khasnya yang tidak akan dijumpai di Cilacap. Hal itu yang membuat setiap dialek menjadi unik dan tidak bisa disamakan dengan dialek dari daerah lain, dan sekaligus menjadi identitas otentik dari orang yang berasal dari suku atau daerah tersebut.
Kesimpulan
Jadi kembali lagi ke pertanyaan awal "Apakah Logat bisa berubah ?".
Saya ada teman kecil dulu yang pindah ke Jawa timur di usia lulusan kelas 6 SD yang mungkin 12-13 tahun. Ia tinggal bareng orang tuanya disana yang sudah lebih lama disana dan mungkin sudah menggunakan bahasa atau dialek jawa timuran selama 2 tahun.
Dan selama 2 tahun tersebut, ia sekolah dan bermain dengan anak-anak lokal yang sudah pasti kental dengan bahasa dan dialek keseharian mereka.
Dan ketika pulang, logatnya ganti secara menyeluruh bahkan ia tidak bisa bahasa ngapak yang sudah digunakannya selama 12-13 tahun sebelumnya.
Ditambah dengan agen asuransi yang ngobrol bareng saya yang pindah ke Jakarta sejak kelas 1 SD dan kehilangan aksen ngapaknya.
Dari kedua kasus ini bisa disimpulkan bahwa logat masih bisa berubah jika ia memulai ganti logat di usia dini.
Atau tetangga saya yang sudah 40 tahun menetap di Cilacap tapi masih juga tidak ngapak ?
Bapak asal Jogja yang sudah 28 tahun juga masih tidak ngapak misalnya ?
Dari kasus yang ini bisa kita lihat bahwa logat tidak bisa diganti atau dirubah di usia yang cukup matang atau dewasa.
Kesimpulan yang paling utama adalah, semua hal bisa dipelajari. Dan jika kebanggan sudah menjadi dasar penggunaan sebuah bahasa hingga dialek, kenapa harus dirubah ? Tidak ada yang salah dengan dialek seseorang atau suatu daerah, itu merupakan kekayaan budaya yang ada di Indonesia.
Dan mungkin memang seharusnya kita semua tidak ada yang mempermasalahkan dialek apapun meski tampak selucu apapun itu di telinga kita. Cukup tertawa dalam hati saja atau ketawanya ditunda.
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan