Haruskah Kita Percaya Gaib ?

Haruskah Kita Percaya Gaib ?

 


Belum lama ini, ada kasus viral perdukunan yang di post dimana-mana salah satunya facebook dan sempat kena hujat sana sini. 

Dukun tersebut dihujat lantaran dianggap menipu orang sakit yang datang berobat kepadanya. 

Dan sebetulnya kasus perdukunan seperti itu kan memang bukan hal baru khususnya di ibu pertiwi kita ini kan ? Sudah sedari jaman batu juga sudah marak praktek perdukunan dengan caranya masing-masing. 

Dan bahkan hingga saat dunia sudah semodern ini, masih juga mereka laku.

Lalu pertanyaannya, sebenarnya siapa yang salah ?

Yuk kita urai sedikit demi sedikit.

Kita anggap si dukun ini adalah pengusaha, atau pelaku usaha dengan produknya pengobatan non-medis. 

Nah ini, di Indonesia ada istilah penyakit non-medis kan ? 

Ok kita lanjut, jika ada pengusaha, ada produk, maka sekarang yang dibutuhkan adalah market. Dan faktanya, masyarakat kita yang melabeli penyakit non-medis ada begitu banyak, yang tentu menjadi market si pelaku usaha atau dalam kasus ini dukun tersebut.

Lalu benarkah si dukun ini menipu ? 

Misal nih, kita sebagai konsumen produk umum, yang bisa dibeli di mini markt seluruh Indonesia. Misalnya sampo. 

Setiap brand sampo mengaku bahwa produk mereka adalah produk dengan kualitas nomor 1 di dunia dan sudah terbukti ampuh mencegah rambut rontok. Semua media menayangkan iklan tersebut. 

Kemudian termakan iklan, kita beli di mini market. Kita coba dong ... keramas kita.

Dan rupanya rambut kita tetap rontok bahkan habis satu botol tetap rontok. 

Nah disini apa yang dikatakan orang bijak ? "Oh mungkin type kuit atau rambut anda kurang cocok menggunakan produk tersebut".

Tapi kita sebagai konsumen, apakah merasa tertipu ?

Dalam kasus sampo, kita sebagai manusia normal beranggapan dan bahkan percaya bahwa sampo bisa membantu mencegah rambut rontok, atau secara umum perawatan rambut ya pake sampo, bukan sabun colek. Makanya kita bei produk tersebut lantaran kita sudah terlanjur percaya bahwa sampo itu berguna untuk kita. Dan ketika ternyata sampo tersebut tidak membantu bahkan tidak berguna, salah siapa ?

Kita yang percaya atau salah produknya ? Atau cuma karena memang kita tidak cocok saja dengan produk tersebut ?

Kembali ke masalah perdukunan diatas. 

Kita, khususnya warga Indonesia sudah terlanjur dipaksa untuk percaya bahwa hal gaib itu ada kan ? Sehingga kita sudah percaya bahwa kehidupan gaib itu memang ada dan bahkan bisa dijumpai. 

Legenda-lengenda tanah jawa pun sudah menyebut adanya alam dewa dan alam arwah, dan kita sudah diharuskan percaya bahkan semenjak kita baru belajar mencerna bahasa. 

Dengan anggapan ini, kemudian orang percaya adanya penyakit non-medis yakni yang ditimbulkan dari campur tangan makhluk gaib. Maka, jalan satu-satunya untuk mengatasi hal itu ya ke dukun. 

Dan dukun menggunakan itu sebagai market, memasarkan produknya berupa jasa atau benda-benda mistis yang dipercaya bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut. Rupanya tidak semua produk itu cocok untuk semua orang. Nyatanya biasanya banyak yang bilang setelah berobat di dukun anu kemudian dia sembuh dari guna-guna dll.

Tapi bagi yang tidak sembuh, merasa ditipu dan diperdaya oleh dukun palsu. Terus dukun aslinya seperti apa ? 

Apakah ketika kita tidak cocok dengan salah satu sampo lalu menyebut bahwa sampo atau brand tersebut palsu ? 

Meskipun dulu memang sempat ada beberapa kasus sampo palsu yang merupakan isi ulang ilegal.

Dan juga kasus dukun palsu.

Nah sampai disini, siapa sebenarnya yang salah ? Si dukun atau si pelanggannya ?

Mengenai dukun palsu pun sama halnya dengan kasus sampo palsu, melihat banyak konsumen yang bisa digunakan untuk meraup keuntungan, mereka menggunakan itu sebagai market untuk berjualan. Sama kan ? Basis nya adalah kepercayaan dan cocok tidak cocok.

Nah sekarang, coba kita bandingkan dengan negara-negara maju diluaran sana yang hidup dengan pola pikir lebih terbuka dan modern. Apa sering dijumpai kasus dukun palsu ?

Karena biarpun ada juga marketnya tidak ada, siapa juga yang mau pake jasanya atau membeli produknya ?

Sekarang gini, kenapa masyarakat di Indonesia percaya gaib ? 

Coba tanyakan pada diri anda sendiri, kenapa anda percaya dan sejak kapan anda mempercayai hal itu ?

Apa pernah merasa bersinggungan dengan dunia gaib, atau hanya mendengar cerita gaib dari mulut ke mulut ? Atau karena dipaksa untuk percaya lantaran menganut paham tertentu ?

Kemudian tanyakan juga, kenapa harus percaya dan apa data nya ?

Beberapa hari yang lalu, saya melihat posting mengenai perdukunan di fb yang lagi ramai itu dan terpancing untuk berkomentar lantaran si pembuat post mengatakan bahwa kita harus percaya gaib. 

Sampai akhirnya beliau si paling bijak ini mengatai saya tidak punya otak lantaran tidak sependapat dengan beliau si bijak ini.


Disini saya tidak kaget, karena saya menyadari hal tersebut sudah seperti menjadi standar di Indonesia. Tidak percaya gaib berarti tidak punya pikiran atau bahkan tidak punya otak. 

Kenapa demikian ? Karena lumrahnya, masyarakat kita dipaksa untuk percaya gaib sedari mereka lahir meskipun sama sekali tidak ada data valid soal itu. Yang penting kita harus percaya. 

Kalau tidak percaya gaib, maka tidak seutuhnya manusia yang berakal. 

Ya, saya yang saat ini masih hidup sebagai warga negara tercintah ini yasudah menerima saja diperlakukan seperti itu. Karena mungkin beliau ini cocok dengan produk gaib atau bahkan hidup di alam gaib. 

Saya maklumi saja. 

Tapi kembali lagi ke pertanyaan paling awal artikel ini, haruskah ? Haruskah kita percaya gaib ?

Apa dasar dari teori gaib ? Mungkin anda bisa membantu saya yang tidak punya otak ini untuk memberi jawaban di kolom komentar ?