Ruang Liminal

Ruang Liminal

 


Semakin tua semakin banyak hal yang belum kita ketahui bahkan baru dengar beberapa waktu belakangan dan kemudian semakin haus akan banyak hal yang masih terlalu banyak belum kita tahu dan bahkan nyaris tidak pernah mendengarnya. 

Liminal Space yang berasal dari bahasa Latin "Limen" yang berarti "ambang" atau "diantara" yang merupakan lokasi peralihan atau transisi yang seringkali berkaitan dengan kecemasan. 

Nah, sebetulnya perihal kecemasan tentu saja sudah sangat lumrah terdengar dan kita rasakan bahkan sejak dini dan kita sudah mengerti sekali ada berbagai macam tempat yang membuat kita tidak nyaman atau merasa cemas yang ternyata tempat-tempat seperti itu merupakan Liminal Space

Msekipun ini cuma perihal istilah dan penyebutan dalam bahasa asing yang terdengar lebih keren dari bahasa lokal, namun dengan menyebut Liminal Space saya rasa lebih menarik ketimbang menyebut dengan Tempat Angker. Loh apa kaitannya ?

Mari kita bahas lebih lanjut.

Liminal Space

Liminal Space atau ruang liminal merupakan sebuah ruang baik fisik maupun non fisik yang bersifat ngambang atau transisi yang sebtulnya sudah sangat kita kenal namun terasa sangat asing. Bingung ?

Contohnya 

Ruang kelas

Saat pagi hingga siang kita menghabiskan waktu di ruang kelas bahkan ketika jam istirahat semua orang keluar ruangan dan kita tetap berada di dalam ruang kelas lantaran malas keluar atau tengah diet.

Semua terasa baik baik saja dan normal. Kebisingan dan suasana yang ricuh atau ketegangan saat ujian, semua hal itu kita kenal dengan baik. Di pagi hingga siang hari.

Selepas jam sekolah berakhir. Suasana berubah. Sepi, senyap. Hingga malam hari. Ruang kelas yang kita kenal biasanya ramai dengan seluruh kelakuan siswanya kemudian hanya terisi deretan bangku kosong yang sunyi. Melihat hal itu kita menjadi tidak nyaman bahkan cemas, hingga kemudian hadir dalam pikiran kita hal-hal yang tidak rasional efek dari kecemasan yang berubah menjadi ketakutan.

Mall 

Tidak ada sejarahnya Mall sepi sunyi senyap apalagi di jam makan siang dan weekend. Semua spot yang tampak dihuni oleh banyak sekali orang berlalu lalang yang seolah tidak pernah kehabisan baterai. 

Tapi pernah tidak anda nonton bioskop di dalam mall tengah malam ? 

Dan ketika keluar bioskop mendapati Mall yang tadi begitu terang dan ramai pengunjung menjadi gelap dan sangat sunyi. 

Jujurly saya pernah sekali-kalinya dalam hidup saya mendapati situasi seperti itu dan asli saya nge-bug.


Lorong Hotel

Lorong hotel yang sering kali menjadi spot mengerikan dalam cerita horror memang sangat mengerikan dan membuat kita merasa cemas di malam hari. Sebuah tempat yang seharusnya dipenuhi orang berlalu lalang namun tampak begitu kosong, itulah mengapa kita merasa cemas.


Parkiran

Parkiran mall yang seharusnya ramai namun kita menemukan tidak ada seorangpun disana akan membuat kita merasa asing dengan tempat itu. Dan kita lupa bahwa tempat parkir hanyalah ruang transit dari satu ruang ke ruang lain, yang tentu saja itu merupakan liminal space.

Dan yang terakhir dalam contoh kita adalah 


Rumah Kosong

Rumah yang kita kenal sebagai tempat yang hangat dan penuh dengan aktifitas harian yang tidak pernah terhenti, menjadi sangat asing ketika kita mendapati rumah dalam keadaan kosong. Kita jadi bertanya-tanya apa yang terjadi dengan penghuninya dan kemana mereka pergi, dan mengapa rumah ini dibiarkan kosong. 

Perasaan-perasaan itu yang akhirnya membuat kecemasan muncul dibumbui dengan ketakutan dan berakhir dihantui oleh penampakan atau suara-suara aneh yang terdengar asing dan tidak masuk akal. 

Pikiran manusia pada umumnya akan melogikakan segala sesuatunya, dan hal itu yang akhirnya menciptakan persepsi. Semisal ada suara benda jatuh diruangan lain di suatu rumah kosong, kita akan berpikir bahwa logikanya tidak akan ada benda jatuh jika tidak ada manusia yang menjatuhkannya, akhirnya kita menduga ada energi sebesar manusia yang melakukannya, namun karena disana tidak ada orang lain, maka hantu lah satu-satunya kandidat yang layak menjadi tersangka.


Dan semua contoh diatas merupakan liminal space fisikal yakni yang berkaitan dengan tempat-tempat fisik yang bisa kita lihat. 

Sementara itu, liminal space juga ada yang non-fisik yakni yang hanya mutlak melibatkan perasaan.

Seperti ketika kita merasa kehilangan sosok yang selama ini kita jumpai setiap hari, akan muncul rasa tidak nyaman, kebingungan hingga kemudian sedih mendapati kenyataan bahwa sosok tersebut sudah tidak ada lagi. 

Dan masih banyak lagi. 

Pada intinya, liminal space adalah peralihan dari suatu titik ke titik lain dan tidak merupakan keduanya. 

Layaknya parkiran, atau lorong, merupakan tempat berlalu lalang dari satu titik ke titik lain dan bukan menjadi bagian keduanya, hanyalah tempat singgah sementara.