
Pengalaman Buruk Menggunakan POSPAY
Ditengah kesibukan saya produktif dalam menganggur, saya sempatkan untuk menulis cerita pengalaman sekaligus review aplikasi dari Pos Indonesia yakni Pospay.
Pospay ini merupakan aplikasi yang berguna sebagai alat pembayaran layaknya perbankan digital seperti yang sudah sering kita jumpai beberapa tahun terakhir.
Nah meski memiliki kesamaan fungsi dengan perbankan digital lain yakni sebagai media pembayaran, namun Pospay memiliki perbedaan yang sangat mendasar dengan aplikasi lainnya.
Jadi beberapa waktu lalu saya lupa tepatnya saya sempat scroll di AliExpress karena saya rasa banyak sekali produk lucu meski tidak berguna disana. Tentunya dengan harga yang sangat beragam dan terbilang cukup murah.
Nah singkat cerita saya tertarik dengan salah satu produk yang setau saya 2 tahun terakhir saya lihat harga di Indonesia mencapai 1 jutaan lebih, sekarang ada di kisaran 800 ribu hingga 2,5 juta, hanya ditawarkan dengan harga 260 ribu di AliExpress.
Dan saya rasa itu merupakan produk yang sama. Jadi setelah berpikir lama dan meyakinkan diri dengan segala resiko yang ada, beli lah satu produk tersebut yang merupakan sebuah mainan tidak berguna tapi bagus secara estetika.
Setelah melalui proses check-out, terbeli lah produk tidak penting tersebut, dan tinggal menunggu paket datang ke rumah dalam waktu yang sudah pasti cukup lama.
Note : Biasanya produk yang dikirimkan dari China memakan waktu hingga 3 minggu bahkan pernah hingga memakan waktu 2 bulan lantaran adanya delay terkait Covid.
Singkat cerita lagi, saya tidak terlalu peduli dengan proses pengiriman ini hingga kemudian dua hari yang lalu saya menerima Sms dari POS Indonesia yang mengatakan bahwa saya diharuskan membayar sejumlah uang terkait pajak dan lain-lain.
Wah ... kaget saya. Biasanya saya akan disuruh bayar melalui kurir ketika paket sudah sampai di tujuan.
Oke lah, sms tersebut berisi link yang berisi informasi paket, resi dan nomor VA pembayaran. Tapi tidak ada informasi VA dari bank mana.
Di link tersebut pun dilampirkan cara pembayaran yakni melalui kantor POS terdekat, ATM Mandiri dan BRI dimana saya tidak menggunakan kedua bank tersebut dan malas sekali untuk mengunjungi kantor POS terdekat. Ya ngapain juga di era digital haru datang ke kantor dan antri ? Ish ! Emosi.
Rupaanya, mereka juga menyediakan aplikasi pembayaran untuk menangani masalah ini yang sudah harus selesai dalam waktu 2 hari dan akan dikenakan biaya inap atau titip jika dalam 2 hari proses pembayaran tidak selesai. OK, saya download lah POSPAY melalui link yang sudah disediakan dan melakukan register.
Dan ketika ingin melakukan pembayaran, rupanya tidak semudah seperti yang biasa saya lakukan dengan aplikasi lain.
Jadi, setelah register otomatis saya menjadi member baru dan memiliki rekening dengan status Lite dengan batasan saldo sebesar 2 juta rupiah. Untuk meningkatkan jumlah saldo yang saya tidak tau juga untuk apa, maka saya harus melampirkan ID atau NPWP untuk upgrade ke type Lite Plus yang memiliki fitur saldo tidak terbatas.
Dih buat apa juga ?
Singkat cerita saya top up saldo sesuai dengan tagihan yang harus saya bayarkan guna menyelesaikan biaya pajak masuk dan lain-lain seperti yang disebutkan diatas yang berjumlah 18.550.
Ketika saya bayar yang tentu saja melalui VA, muncul pop up error yang mengatakan bahwa tidak bisa melakukan transaksi saat jam cut off. Dimana saat itu saya membayar diluar jam cut off yakni 12.30 - 13.45.
OK, saya tunggu beberapa jam untuk kemudian mencoba kembali. Dan kali ini muncul pesan error bahwa saldo tidak cukup. Wait what ?
Saldo saya tentu saja seharusnya cukup untuk membayar tagihan tersebut karena memang sudah saya top up dengan pas. Beberapa kali saya coba dikhawatirkan error system, namun tidak kunjung berhasil.
Sampai saya mengutuk bahwa produk BUMN memang tidak ada yang beres ! hehe.
Hingga akhirnya saya mencari penyebab masalah ini dan akhirnya saya menemukan bahwa :
POSPAY menggunakan CGS sebagai basis systemnya yakni Core Gyro System yang saya sendiri baru dengar nama ini. maap.
Dan menemuka bahwa harus ada dana mengendap sebesar 10 ribu rupiah di dalam rekening. Dih !!!!
Taek juga ! Hingga akhirnya yasudah karena memang harus diselesaikan kan, saya top up lagi sebesar 10 ribu sebagai dana mengendap di rekening yang sudah tentu saja tidak akan bisa digunakan untuk apapun. Buang duit.
Dan lanjut proses bayar dan berhasil tanpa kendala meskipun prosesnya cukup ribet dan menyebalkan.
Setelah selesai, saya kembali ke halaman beranda dan menemukan saldo tersisa disana yang seharusnya tidak pernah ada.
Kenapa tidak menggunakan system pembayaran seperti pada umumnya saja dan tidak memaksa pengguna mengendapkan 10 ribu rupiah disana ???
"10 ribu doang juga dih", suara kentut yang lewat entah darimana.
10 ribu per member, kalau 1 juta pengguna saja sudah 10 Miliar. Dan penduduk Indonesia ada 270 juta. Berapa ember tuh duit ?
Mengutuk produk BUMN pun terucap kembali.
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan