Apakah Saya Mengidap Hoarding Disorder ?

Apakah Saya Mengidap Hoarding Disorder ?

Hoarding Disorder ? Apa itu ?


Mengutip dari laman Alodokter, Hoarding Disorder merupakan kondisi gangguan mental yang membuat pengidapnya memiliki perilaku gemar menimbun barang yang bahkan sama sekali tidak berharga dengan anggapan barang-barang tersebut berguna dikemudian hari, memiliki nilai memori atau membuat aman ketika dikelilingi barang-barang tersebut. 

Apakah ada diantara anda yang seperti itu ?

Orang tua saya sepertinya memiliki sifat tersebut meskipun tidak parah.

Jika melihat ke bagian belakang rumah, ada begitu banyak barang-barang lama yang masih ditumpuk dengan anggapan masih bisa digunakan meskipun entah kapan akan digunakan yang sepertinya bahkan sudah tidak relevan lagi digunakan pada jaman sekarang.

Meskipun memang tidak sepenuhnya begitu. Ada kalanya memang disimpan untuk dikumpulkan dan kemudian dijual ke tukang rongsok. Setidaknya oleh ibu saya yang kemudian Ayah saya suka ngomel-ngomel lantaran barang-barangnya dijual tanpa sepengetahuannya. Dan memang, si Bapak inilah yang lebih gemar menyimpan barang-barang lamanya yang sebenarnya sudah tidak terpakai tanpa dirawat. Hanya disimpan saja sampai kondisinya tidak lagi layak pakai. Apakah seperti itu juga merupakan sifat pengidap Hoarding Disorder ?

Belakangan pikiran saya sedikit terganggu dengan apa yang tengah saya alami belakangan ini, yang meskipun sudah saya putuskan sepenuhnya jalan keluar paling tepat.

Ini soal kebiasaan juga.

Jadi, memang sudah menjadi kebiasaan saya untuk enggan menjual barang bekas semisal ponsel dan perangkat elektronik yang sudah saya gunakan, meskipun tidak sepenuhnya begitu.

Beberapa kasus memang sudah tidak layak jual dengan kondisinya yang sudah rusak. Dan ada pula yang tidak ingin saya jual karena kaitannya dengan hubungan emosional semu yang saya rasakan meskipun awalnya ada kepikiran untuk menjualnya sebelum harganya semakin anjlok.

Barang-barang elektronik seperti handphone dan tablet, harganya sudah pasti akan turun seiring berjalannya waktu meskipun jarang dipakai dan penuh perawatan. Yang tentu saja hal tersebut terjadi lantaran setiap tahun ada perilisan model baru yang biasanya jauh lebih bagus kualitasnya.

Dan yang terakhir adalah soal iPad yang belakangan saya upgrade dan dibahas di artikel Upgrade iPad.

Sebelum upgrade iPad ke versi yang lebih baru, saya ada pikiran untuk menjual iPad lama saya yang sudah digunakan selama 4 tahun terakhir alih-alih memangkas pengeluaran upgrade ke iPad yang baru. 

Tapi, metode yang saya pakai adalah menjual yang lama setelah memegang yang baru karena banyak hal yang harus di transfer ke device yang baru.

Dan singkat cerita iPad baru pun sudah saya pegang dengan misi utama adalah dengan menggunakannya sebagai perangkat utama dan harus balik modal dalam waktu cepat. 

Maksudnya adalah iPad baru tersebut harus mampu menghasilkan nilai harga beli iPad tersebut. Dan memang sedari dulu prinsip saya selalu begitu dalam membeli barang-barang yang memang ditujukan untuk produktifitas.

Dan sembari saya menjalani misi tersebut, saya pun mulai menawarkan iPad lama yang tentunya di Marketplace degnan harga standar lantaran ada minus baret lumayan besar di layar.

Sempat ada pembeli yang deal dengan harga yang kita sepakati setelah nego-nego halus dan berbincang di chat. Hingga akhirnya calon pembeli tersebut batal order karena menilai goresan layarnya (mungkin) sangat mengganggu. Yang padahal sama sekali tidak ketika ditutup dengan screen protector bahkan yang murah sekalipun.

Jalan 40 hari listing di marketplace, sudah banyak orang yang tertarik dan berusaha menawar, yang tentunya dengan harga yang beragam, bahkan ada yang curhat juga dengan bilang sangat butuh untuk kuliah. Tapi karena memang harganya tidak cocok, ya tidak deal.

Hingga akhirnya iPad yang baru sudah berhasil mengembalikan modal beli nya dalam waktu 40 hari tersebut, membuat saya kemudian berhenti berpikir sejenak.

Di moment-moment tersebut ada bebrerapa calon pembeli berdatangan menawar membuat saya mules dan harus ke toilet, yang mana itu merupakan tempat gaib yang mengundang banyak inspirasi.

Dan muncullah pikiran ini.

Nilai sentimental sebuah benda mati

iPad yang saya gunakan selama 4 tahun terakhir itu yang sedang saya jual adalah benda yang selama 4 tahun terakhir menjadi penopang hidup saya. Meskipun benda mati, dan tidak membuat apapun jika tidak saya gunakan, tapi saya membuat banyak hal dari benda tersebut. Yang mana tanpa benda tersebut (iPad) saya tidak membuat apapun dan hidup saya mungkin tidak seperti saat ini yang bisa upgrade iPad ke versi yang lebih baru.

Bahkan, pendapatan saya hingga bulan-bulan mendatang masih juga dihasilkan dari iPad lama tersebut.

Dari iPad tersebut, saya bisa membangun rumah meskipun baru pondasi, menikah hingga bahkan punya anak. Apa pantas benda yang sangat penting itu kemudian saya hilangkan begitu saja atau diserahkan pada orang yang sama sekali tidak tau apa2 ?

Nilai Histori

Perjalanan 4 tahun itu tidak singkat dan sangat banyak hal yang terjadi di dalamnya. Hal setiap hal yang terjadi dalam hidup saya tentunya memiliki banyak proses dan setiap prosesnya melibatkan iPad tersebut yang selalu saya bawa kemana-mana. Tidak pernah saya tinggal jika bepergian baik lama maupun sebentar karena setiap kali saya nongkrong ngopi, ada saja alasan saya untuk menggambar disana.

Banyak kisah yang saya alami berkat iPad tersebut dan bersamanya. 

Memang, kesannya menjijikkan, tapi serius, pikiran itu yang muncul saat di toilet sembari buang air besar kala itu.

Koneksi

Kebersamaan selama 4 tahun mungkin tidak begitu lama, namun sudah terjalin koneksi yang tak kasat mata (halah) yang tidak bisa digantikan dengan apapun, karena segala sesuatu memiliki nilai dan progress yang tentunya berbeda. Bahkan saat ini, iPad baru yang memiliki versi lebih baru bahkan ukuran lebih besar tidak lebih bernilai dimata saya karena memang perannya yang masih sebatas hitungan minggu. Belum banyak yang dihasilkan darinya, baru bisa balikin modal.

Harga

Awal mula listing dengan pikiran logis saya, harga yang saya tawarkan adalah kisaran 7.5 juta rupiah untuk iPad pro 11 generasi pertama 2018 yang cenderung lebih murah dari harga pasaran yang masih pada jual di angka 8 juta keatas dengan kondisi fullset.

Dan tawaran tertinggi saat ini setelah saya berubah pikiran adalah 7.3 juta yang bahkan hingga artikel ini ditulis belum saya buka chatnya. Masih saya cuekin. Padahal mungkin bisa lepas di 7.4 melihat dari caranya menawar. 

Dan beberapa orang menawar dengan harga 6 juta yang sudah sangat tentu cukup keterlaluan dan akan menghilangkan semua nilai yang dibawanya. Yang pastinya memang si pembeli ini tidak tau dan tidak peduli. Kecuali jika saya seniman besar yang sangat terkenal. Mungkin saya jual 7 Miliar pun ada yang mau.

Fungsi

Memang iPad Pro bukan barang murah yang mungkin akan dijaga dengan baik oleh siapapun yang memilikinya apalagi jika melihat dari spek dan fungsinya yang bisa menghandle banyak hal dalam balutan tablet yang sangat tipis dan simple, mungkin setiap orang akan menggunakan dan merawatnya dengan baik.

Tapi, jika si pembeli ini beli dengan harga dibawah pasar apalagi ada minusnya, tentu saja semua nilai dan sejarahnya seketika binasa dan lebih fokus di bagian kekurangannya yang mungkin akan berimbas pada perawatan dan cara menilainya. Yang mungkin akan berdampak pada penggunaan yang jor-joran dan sembarangan.

Bahkan mungkin dipinjamkan ke anaknya yang masih kecil kemudian jatuh terbanting dan menjadi sampah dalam waktu singkat. Dan ya... binasa.

Apakah hal itu penting mengingat iPad tersebut hanya benda mati ? Hanyalah perangkat yang tidak akan melakukan apapun tanpa dioperasikan oleh pemiliknya ? Dan saya bisa menggunakan iPad yang baru untuk menunjang semua pekerjaan saya dan bisa menghasilkan lebih dari iPad yang lama bahkan mungkin dalam waktu yang lebih cepat ? 

Mungkin.

Tapi, kembali ke sisi nilai sentimental dari setiap benda yang memiliki posisi berbeda.

Perjalanan 4 tahun terakhir tidak akan bisa tergantikan oleh apapun karena memang itu semua sudah terjadi dan memang itu yang terjadi. Dan tidak bisa dirubah. 

Dan toh modal buat beli iPad baru pun sudah kembali dari iPad yang baru juga. Jadi sudah tidak ada alasan untuk menjual yang lama kan ?

Dan bahkan karena saya kesal ada yang nawar 6 juta, akhirnya saya kembali menggunakan iPad yang lama dan meliburkan dulu yang baru untuk kembali bekerja dan menghasilkan lebih dari sekedar 7 juta.

Dan 7 juta itu bisa buat apa ? Sementara iPad lama ini masih bisa menghasilkan lebih dari 7 juta ? 

Apakah layak mesin penghasil uang tersebut dibayar dengan hanya 7 juta yang tidak akan menjadi apa-apa juga ? 

Dan bahkan hingga saat ini, Surface Pro saya yang sedari 2018 (4 tahun digantikan iPad) tidak lagi saya gunakan masih saya simpan dan memang sama sekali tidak ada yang nyari saat saya jual, sampai sekarang malah kena masalah layar flicker, semakin tidak punya alasan lagi untuk dijual.

Dan apakah logika saya ini cenderung mengarah ke Hoarding Disorder