
Platform
Tulisan ini saya buat untuk berdiskusi dengan diri sendiri mengenai sudut pandang dan pola pikir yang kadang saya ributkan sendiri.
Tentang Platform
Secara bahasa platform adalah wadah ataupun sebuah area atau bisa juga disebut dengan layanan, setidaknya itu anggapan saya yang selama ini menjadi momok bagi diri saya sendiri dalam memposisikan diri dalam kehidupan yang sangat luas dan tiada akhir ini.
Platform yang beraneka ragam sekali yang jika disebutkan tidak akan ada habisnya, setidaknya itu lagi-lagi pandangan saya yang suka mempersempit suatu ruang demi untuk lebih bisa cepat dipahami.
Misal saja, platform dimana saya bergelut di dunia digital yakni LINE yang merupakan platform perpesanan singkat buatan jepang yang juga memiliki pasar stiker untuk bisa digunakan oleh para pengguna (platform).
Untuk menilik seberapa potensi pasar disana mengingat saya berjualan stiker, maka yang perlu saya ketahui adalah seberapa banyak jumlah pengguna dan penguna bulanan aktif yang kemungkinan ada diantaranya adalah calon pembeli dari konten stiker yang saya buat.
Lalu apakah sebatas itu ?
Bisa iya bisa juga tidak.
Orang yang bukan merupakan pengguna LINE pun mungkin pernah mendengar atau bahkan tau ada aplikasi chatting bernama LINE yang berisi banyak sekali stiker lucu. Yang bisa jadi juga non pengguna ini kemudian menjadi pengguna demi bisa menggunakan kemudahan fitur dan kelengkapannya atau bahkan hanya karena tertarik dengan stiker.
Berarti sempit dong jangkauannya jika setiap orang harus menjadi pengguna dulu untuk kemudian bisa disebut sebagai bagian dari platform ? Sebetulnya bisa dibilang, iya.
Ruang gerak
Youtube
Berbeda dengan platform Youtube yang lebih luas dan tidak harus jadi pengguna hanya untuk menikmati tontonan video hiburan yang ada begitu banyak disana. Setiap orang yang terhubung dengan jaringan internet bisa menonton video Youtube dengan layanan penuh tanpa harus mendaftar dan menjadi pengguna.
Dan enaknya lagi, Youtube merupakan bagian dari Google yang mana saat ini menjadi raksasa Internet dunia dan mungkin sebagian besar pengguna internet merupakan pengguna Google. Kecuali warga negara yang di negara tersebut mem-block Google dan seluruh jaringannya, layaknya mungkin China.
Kembali ke Youtube, saat ini banyak orang yang hidupnya sangat mobile sehingga tidak bisa berdiam lama dan menikmati suasana di satu ruang dan menonton TV. Bahkan TV sudah mulai ditinggalkan karena memang tayangannya yang sangat tidak menarik dan dipenuhi dengan iklan. Yang belakangan para iklan ini sudah pindah ke Youtube.
Bahkan ibu saya sudah menjalani hidup satu tahun terakhir tanpa TV karena rusak dan malas untuk servis, dan tontonannya sekarang pindah ke Youtube di ponsel. Dengan begitu sudah bisa dibilang TV sama sekali bukan lagi kebutuhan dalam rumah yang selama ini setiap rumah harus ada TV sebagai satu-satunya media hiburan visual.
Kemarin saat saya berada di rumah mertua selama 4 bulan penuh, seingat saya ada 3 kali TV di nyalakan. Untuk menghibur cucu yang kadang datang dan menonton piala dunia yang cuma ditonton saat tim favorit main.
Dan saya sampai kaget ada TV nyala, karena kesehariannya mati.
Lalu setiap harinya nonton apa ? Youtube.
Apakah itu cukup mewakili ?
Bisa dibilang begitu. Siapa sih yang saat ini masih nonton sinetron yang sudah sangat jelas tidak bermutu disaat ada full episode anime, full movie di layanan streaming yang gratis dan bisa ditonton sembari rebahan di kasur ?
Dulu waktu saya kecil, ingin sekali rasanya nonton TV sembari rebahan di kasur sampai ketiduran. Dan sekarang, kita cuma perlu ponsel untuk melakukan itu dan keponakan saya yang sedari usia 3 tahun sudah pegang ponsel tentu bahkan tidak mengenal enaknya nonton TV. Ada Tiktok yang isinya orang gila semua dan sudah pasti lebih lucu dan seru.
TikTok
Youtube juga tidak selamanya paling juara, karena sekarang ada Reels dan Tiktok yang berisi video pendek dan sangat variatif sehingga konsumsi penonton lebih bervariasi meski dalam durasi nonton yang singkat. Dan Tiktok pun merupakan sebuah platform yang mewadahi jutaan kreator konten untuk berkarya dalam bentuk video hingga jualan produk dan reseller.
Instagram dan masih banyak lagi
Ada begitu banyak platform digital yang bisa digunakan untuk menjadi wadah dalam menyalurkan hobby, berkarya dan mendapatkan penghasilan darisana, dengan nominal yang jauh melampaui batas logika kita 10 tahun yang lalu.
Dan platform seperti ini cenderung cepat berkembang karena pada dasarnya manusia lebih menyukai hiburan dalam bentuk visual. Bahkan yang bukan hiburan seperti tutorial dan pendidikan pun sekarang disajikan dalam bentuk video yang memang lebih menarik untuk diikuti dan dipahami.
Dan herannya, masih banyak yang mengeluh tidak ada pekerjaan ? Tidak ada lapangan kerja ? Menista diri menjadi pengangguran disaat ada begitu banyak platform dan media yang bisa digunakan untuk berkarya dan menghasilkan pendapatan ?
Wow.
Saya tidak habis pikir soal itu. Tapi itu bukan masalah saya.
Kembali ke konteks awal yakni soal platform.
Setiap kita, usaha kita apapun itu tidak lepas kaitannya dari sebuah platform yang mewadahi.
Pasar
Jaman dulu aktifitas jual beli dilakukan di pasar yang kemudian saat ini disebut pasar tradisional lantaran sudah ada pasar modern dan mall yang merupakan pasar dalam gedung besar selain Plaza yang memang cuma tempat berkumpul dan kemudian banyak orang dagang.
Bahkan dalam kehidupan konvensional pun kita butuh platform, tidak hanya yang digital saja mengingat memang platform adalah wadah atau sarana, tempat dan sejenisnya yang pada umumnya memiliki aturan dan algoritma.
Kenapa saya membahas ini yang mungkin tidak menarik untuk dibaca ?
Karena pada dasarnya ini adalah obrolan pikiran saat ini yang kemudian saya translate kedalam bentuk tulisan yang mungkin suatu saat bisa saya baca kembali. Jika tidak menarik untuk anda, silahkan pergi.
Aturan dan Algoritma
Setiap platform tentu memiliki aturan masing-masing yang pada umumnya akan menguntungkan semua yang terlibat di dalamnya, baik pemilik, pengelola hingga ke pengguna.
Karena memang aturan dibuat untuk pengembangan platform, baik yang konvensional maupun digital. Semuanya begitu.
Dan juga setiap platform memiliki algoritamanya sendiri dalam melakukan segala seluruh aktifitas di dalam platform. Ada yang bersifat ketat ada pula yang longgar semata demi menjaga kestabilan dan ruang gerak platform itu sendiri.
Dan semuanya memiliki tujuan yang sama, bertumbuh, berkembang dan besar hingga menjadi juara.
Dan jika kita memahami semua hal tersebut, kita menjadi mengerti apapun yang berlaku serta mendasari dari sebuah platform yang mungkin kita tertarik untuk masuk atau sudah berada di dalamnya.
Dan tentu kita bisa mengerti pula, apa yang harus kita lakukan dan bagaiamana cara kita memposisikan diri dan ambil bagian dari seluruh aktifitas yang ada.
Jadi tidak bentar-bentar teriak tidak ada pekerjaan, minim lapangan kerja dan pemerintah zalim. Wkwk
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan