Saya sebagai Anu merasa Heran

Saya sebagai Anu merasa Heran


Belakangan saya sering sekali menemui tidak cuma satu dua orang, melainkan banyak orang yang berkomentar dalam sebuah video maupun postingan di sosial media dengan kemiripan pola yakni menggunakan awalan kalimat begini :

“Saya sebagai Anu (Profesi atau Status sosial tertentu)” dan dilanjutkan dengan opini yang mereka sampaikan.

Dan dari banyaknya type komentar semacam itu membuat saya bertanya-tanya. Sebtulnya ada apa dan kenapa seseorang harus menyebutkan siapa dirinya hanya untuk berkomentar ?

Akhirnya ditengah kesibukan saya menganggur, saya sempatkan diri untuk sedikit mencari-cari jawaban melalui internet dan tidak menemukan apapuun.

Hingga akhirnya saya nanya ke ChatGPT yang saat ini saya rasa jauh lebih baik daripada harus menghabiskan waktu membuka banyak link di hasil pencarian Google.

Dalam obrolan singkat saya dengan ronbot AI itu, ada setidaknya 2 kesimpulan yang salah satunya saya rangkum dari logika sederhana saya saja. Diantaranya :

Narsistik

Mungkin salah satu penyebab mengapa banyak orang menggunakan identitas profesional sebelum berkomentar merupakan cerminan dirinya yang memang narsistik. Dimana sifat manusia yang satu ini selalu berlebihan dalam menghargai atau memberi nilai pada diri sendiri dan cenderung memaksa orang lain untuk memberikan nilai yang sama untuk dirinya. Untuk itu sebelum berkomentar dengan tujuan itu si para narsistik ini dengan sengaja menggiring opini pembaca untuk menerapkan nilai yang tinggi pada diri nya.

Memang NPD ini merupakan salah satu gangguan kepribadian yang cukup parah, namun perlu di ingat bahwa tidak semua perilaku narsistik ini berkaitan langsung dengan gangguan kepribadian atau mental. 

Kecemasan

Ada kalanya mungkin sebelum orang berkomentar pada suatu posting sudah tau mengenai dampak apa yang nanti akan ditimbulkan dari pendapatnya yang mungkin tidak disukai oleh semua orang. Apalagi mengingat bahwa netizen Indonesia sangat ganas dalam urusan Julid dan Menghujat hingga serat terdalam. 

Untuk mengantisipasi hal tersebut, menujukan identitas profesional mungkin akan menghalangi orang dengan kapasitas yang tidak memadai untuk menyerang atau menyanggah pendapatnya. Meskipun tidak menutup kemungkinan masih tetap ada saja muncul kalimat “Si Paling Anu” dari netizen yang entah siapa dan dari mana. 

Anti Sosial

Hmm… mungkin dengan menyebutkan identitas profesional akan membatasi orang yang memang tidak layak untuk membalas komentar dan meskipun “si paling” ini muncul pun tetap tidak akan berpengaruh apapun selain dari mempermalukan diri sendiri. 

Semisal dengan mengatakan “Saya sebagai Arsitek, merasa terkesima dengan konsep bangunan yang ada di video tersebut”. 

Dengan kalimat penegasan di awal bahwa ia adalah seorang Arsitek, orang-orang yang tidak mengerti ilmu arsitektur tidak akan menyanggah atau berani berkomentar yang tidak-tidak. Karena si Arsitek ini beropini sesuai kapasitasnya sebagai orang yang memang mempelajari ilmu tersebut secara benar.

 Atau …

Baik Hati

Dalam suatu post tertentu yang membahas hal-hal berbau sensitif seperti SARA biasanya muncul komentar dengan type ini “ Saya sebagai sesama, atau saya sebagai seorang *** juga” dan sebagainya mungkin bermaksud hanya ingin menunjukan empati yang mendalam sebagai bentuk dukungan moral pada si pemosting atau isi postingan atau juga menggiring orang-orang yang serupa untuk turut memberi dukungan juga.

Mungkin bisa jadi seperti itu. 

Kesimpulan

Kenapa banyak komentar dengan pola seperti itu khususnya di Indonesia ? Mungkin karena memang kebiasaan kita untuk meniru apa yang menurut kita “baik” sehingga pada akhirnya banyak yang menggunakan konsep komentar seperti itu, yang sepertinya jarang saya temui di komentar luar. 

Terlepas dari apapun tujuannya, mungkin saja satu kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa mereka menggunakan pola komentar seperti itu hanyalah untuk menunjukkan kepada pengguna internet lain bahwa opini yang mereka sampaikan ini sesuai dengan kapasitas keilmuannya atau sesuai dengan siapa mereka tersebut. Sehingga orang-orang yang tidak berada dalam kapasitas itu tidak akan meragukan pendapatnya atau menghujatnya karena menganggap sok paling tau. 

Meskipun memang tidak menutup kemungkinan akan selalu muncul komentar dari netizen yang entah muncul darimana kalimat paling jitu ini . “Si paling Anu…”.