
Overpopulasi
Pernah terpikir bahwa kita hanyalah sebagian kecil dari begitu banyaknya makhluk yang tinggal di bumi?
Atau selama ini sebagian dari kita hanya terpikir bahwa kita merupakan satu-satunya makhluk berkecerdasan yang mengendalikan alam ini ? Menggunakan semua fasilitas bumi untuk kepentingan kita atas nama humanisme ?
Bahkan saya pernah mendengar pernyataan yang sangat mengerikan menurut saya yang rupanya beliau mengutip dari salah satu kitab agama yang menyebut bahwa “ Seluruh isi dari bumi ini disediakan untuk manusia makan”. Setidaknya itu yang orang itu katakan terlepas dari tepat tidaknya kutipan tersebut.
Yang saya pikir hal itu sangat aneh mengingat bahwa kalimat itu muncul dari manusia dan diperuntukkan untuk manusia dengan mengatasnamakan kemanusiaan atau bahkan ketuhanan.
Yang saya tanyakan kala itu, atas dasar apa kemudian semua ini untuk manusia sementara manusia muncul belakangan ?
Dan dengan entengnya pun beliau menjawab bahwa itu kalimat dari Tuhan. Ckckck
Memang, untuk bisa bertahan hidup, secara naluriah kita dan makhluk lain pun harus mematikan makhluk lain, bahkan vegetarian pun yang tidak makan daging bisa jadi membunuh beragam jenis tumbuhan untuk dikonsumsi.
Dan begitu juga dengan makhluk lain di muka bumi ini yang rupanya pun hanya sebutir debu ditengah luasnya semesta yang seharusnya pula memiliki beragam sekali kehidupan. Meskipun setidaknya sampai saat ini kita belum menemukan satupun kehbidupan yang terbukti, tapi itu cerita lain.
Kali ini fokus kita hanya di bumi yang bahkan dihuni oleh miliaran makhluk hidup yang diantara begitu banyaknya sama sekali belum kita kenali.
Dan oleh sebab itu, kita lebih spesifik lagi ke manusia yang rupanya sejauh ini berkembang begitu pesat dan menghasilkan dampak yang begitu signifikan.
Ada percepatan yang luar biasa pada peningkatan jumlah manusia sejak 1927 dan saat ini bumi sudah dihuni oleh setidaknya 8 miliar jiwa.
Lalu kenapa ?
Dampak dari Overpopulasi
Ada beberapa penelitian yang mengatakan bahwa bumi tidak cukup untuk menghidupi manusia lebih dari 10 miliar atau bahkan bumi dipastikan hancur sebelum 2100 yang cuma tinggal beberapa puluh tahun lagi.
Setelah diperhitungkan, sumber daya yang bisa dihasilkan bumi tidak akan cukup untuk mensuplai kebutuhan pokok 10 miliar jiwa. Dan sekarang sudah 8 Miliar jiwa yang tercatat hidup.
Jika saya setiap pasangan memiliki 1 anak, maka dipastikan dalam waktu dekat jumlah manusia ada lebih dari 12 Miliar dan itu sudah melampaui batas maksimal penduduk.
Dan nyatanya, bahkan setiap pasangan memiliki setidaknya 2 anak bahkan baru-baru ini masih ada yang melahirkan 8 anak sekaligus, atau yang tercatat sudah memiliki 10 anak.
Apa yang akan terjadi selanjutnya ?
Di Australia, pemerintah memberikan racun pada kucing-kucing liar untuk mengurangi populasi kucing yang sudah dianggap terlalu banyak dan menjadi hama.
Dan sayangnya, manusia sudah lama menjadi hama bagi binatang lain, yang sialnya adalah manusia menganggap binatang yang kehilangan habitatnya ini sebagai hama, misalnya saja gajah di Sumatra yang sering sekali disebut meresahkan karena masuk ke area pekebunan bahkan perkampungan.
Krisis
Dengan jumlah manusia yang sudah melebihi batas kapasitas maksimum di bumi, satu-satunya hal yang sangat masuk akal terjadi adalah munculnya krisis danyang terparah adalah krisis pangan. Karena memang lahannya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia yang terlalu banyak.
Dan demi bisa mencukupi kebutuhan manusia yang rupanya pun terus bertumbuh, maka pembukaan lahan baru pun terus dilakukan.
Salah satunya belakangan ini pemerintah Indonesia berhasil membuka ribuan hektar perkebunan baru yang digunakan untuk menunjang kebutuhan pangan hingga 50 tahun kedepan.
Buka perkebunan baru dimana ? di Mars ? Sayangnya tidak, masih di bumi. Dengan menghilangkan hutan yang begitu luas.
Polusi
Dengan dibukanya perkebunan baru, umumnya akan disusul dengan industri baru yang digunakan untuak mengolah hasil pangan. Dan sudah barang tentu saja, polusi akan bertambah. Produk limbah akan semakin banyak dan sudah tentu akan mencemari lingkungan.
Karena memang regulasi di Indonesia terkait limbah masih jadi masalah yang sepertinya masih tidak dipikirkan. Bahkan limbah rumah tangga yang merupakan perhentian terakhir dari hasil industri tersebut pun tidak diperhatikan oleh si para konsumen ini. Yang pada akhirnya memperluas kerusakan dengan sangat cepat dan masiv.
Dan sialnya lagi, lahan-lahan hutan seharusnya berfungsi sebagai penyeimbang sudah dihancurkan. Buntutnya apa ? Udara tidak lagi bersih dan hutan yang bertugas menyuplai oksigen sudah tidak cukup, dampaknya kita bisa saja kekurangan oksigen.
Hingga mungkin nanti oksigen pun akan dijual dengan label “Hanya untuk rakyat miskin” dengan tabung warna hijau. Kemana-mana kita nggendong oksigen ? Bisa bayangkan itu ?
Perang
Dengan kondisi global yang tidak jauh berbeda dimana semua mengalami krisis, hal yang paling masuk akal selanjutnya adalah perang dimana-mana demi memperebutkan wilayah penghasil pangan.
Regulasi perang akan dirubah lagi atau ditiadakan untuk menstabilkan kembali kehidupan.
Dan yang terjadi apa selanjutnya ? Kepunahan.
Dengan kondisi yang sangat mengerikan, binatang lain pun hilang yang selama ini berfungsi sebagai penjaga ekosistem dan membuat semua system yang ada di bumi ini berjalan. Seperti misalnya serangga yang selama ini bertugas untuk mentransfer benih dan lainnya yang diketahui belakangan ini sudah banyak jenis diantaranya yang punah akibat tidak bertahan dengan kondisi perubahan iklim yang sedemikian ekstrem.
Disusul dengan para unggas dan binatang lain. Binatang yang tersisa pun akan dengan cepatnya dilahap oleh manusia yang kelaparan dan haus akan kekuasaan. Dan pada akhirnya, bumi tidak layak lagi untuk ditempati. Berakhir seperti Mars ?
Yang tersisa hanya jamur yang masih tetap membangun kerajaan dibawah tanah dan merambat ke semua bidang.
Beribu-ribu tahun kemudian bumi kembali menghijau dan organisme baru bermunculan.
Berjuta-juta tahun kemudian, manusia kembali datang entah dari planet mana yang mungkin saat ini sedang mengupayakan berangkat dan baru akan tiba jutaan tahun mendatang.
Dan semua siklus akan kembali terjadi.
Ah stop nge-halu.
Soal over populasi ini, mengingat apa yang terjadi pada kanguru dan kucing di Australia, apakah ini juga akan berlaku untuk manusia ?
Manusia yang dianggap sebagai hama dari manusia lain akan dengan segera dibinasakan secara masal dan cepat ?
Seperti misalnya menggunakan senjata biologis seperti yang dikabarkan solah covid kemarin dalam teori konspirasinya misal ? Karena jika dengan bom nuklir selain melanggar regulasi internasional juga meninggalkan dampak yang tidak bagus, maka senjata biologis adalah yang paling masuk akal untuk mengurangi populasi yang sudah berlebihan ini.
Atau penanaman nano chip yang kemudian akan digunakan untuk mengontrol manusia dan mengarahkannya untuk mematikan dirinya sendiri dengan mengkonsumsi makanan-makanan yang dibuat khusus oleh AI ?
Atau perkembangan AI yang dengan cepatnya memiliki kesadaran dan menginvasi manusia karena dianggap merusak bumi ?
Sebenarnya, melihat teknologi yang sudah ada sekarang, ada begitu banyak skenario masuk akal untuk mengurangi populasi dari mulai cara yang biasa aja hingga yang sangat mengerikan, apalagi dengan perkembangan teknologi kedepan yang akan sangat semakin maju dan mendominasi.
Seharusnya tidak ada ruang lagi untuk manusia yang dianggap tidak berguna bisa mengkonsumsi apapun sumber daya yang akan menjadi sangat berharga.
Solusi ?
Dengan kita melihat skenario terburuk dari masa depan, maka kita bisa setidaknya memikirkan solusi apa yang seharusnya kita mulai terapkan. Meskipun dari langkah yang paling sederhana.
1. Menjaga ekosistem dengan pengelolaan limbah yang benar. Tidak perlu yang sebegitunya karena memang regulasi di Indonesia, bisa mulai dari memilah jenis-jenis sampah sebelum diangkut di truk sampah.
2. Mengurangi polusi dengan menanam lebih banyak pohon, selain sejuk itu juga indah dan memberikan nuansa yang lebih segar. Dan ingat, warna hijau adalah warna yang bisa membuat mata kita menjadi lebih rileks dan fokus.
3. Tidak membakar sampah. Sampah yang sudah dipilah sebaiknya diberikan ke pihak pengelola sampah untuk di distribusikan ke tempat pengolahan yang sudah disiapkan di beberapa wilayah di Indonesia, atau untuk kebutuhan daur ulang.
4. Bersikap lebih bijak terkait mengkonsumsi makanan. Terlalu banyak memakan daging pun tidak akan berdampak baik bagi kesehatan, kita bisa memakan tanaman hasil dari kebun kita.
Yang tidak punya lahan, sekarang sudah ada begitu banyak model tanam yang bisa digunakan untuk kita yang tidak punya lahan.
5. Memberikan ruang untuk makhluk lain hidup, seperti unggas dan binatang yang mungkin kita sebut sebagai hama. Mereka pun memiliki kehidupan yang seharusnya berjalan dan akan berdampak pada kehidupan kita. Dengan pembantaian besar-besaran pada para “hama” ini bisa jadi kita merusak ekosistem yang sedanga berjalan.
6. Membuat program rumah tangga dengan memperhatikan dampak keberlangsungan hidup kedepan dengan seksama. Seperti misalnya perencanaan program anak, berapa anak yang seharunsya kita punya dengan memperhatikan kebutuhan anak sampai pendidikan terbaik untuk anak.
Dengan peduli dengan keberlangsungan hidup kedepan, kita bisa mengerti apa yang terjadi ketika kita memilih untuk memiliki jumlah anak tertentu.
7. Lebih terbuka pada pengetahuan baru dan perihal lingkungan hidup bukan hanya untuk hari ini, tapi kemungkinan yang akan datang yang merupakan dampak dari apa yang kita lakukan hari ini.
8. Jangan serakah.
Dan masih ada begitu banyak solusi yang bisa kita mulai perlahan. Tidak perlu berpikir untuk mengubah orang jika memang kita tidak memiliki kapasitas untuk itu. Dimulai dari langkah kecil, kita bisa menciptakan banyak hal besar.
Untuk hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, serahkan semua pada kebijakan dimana kita berada. Jika memang tidak memadai, setidaknya apa yang kita lakukan tidak memperburuk, dan bagus lagi malah bisa menjadi contoh baik untuk diikuti orang lain. Yuk
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan