Apa landasan berfikir kita ?

Apa landasan berfikir kita ?

 


Sedari jaman sewaktu kecil dulu, sering sekali saya mendengar kalimat mengenai logika seperti misal “Secara logika begini”, “menurut logika saya begini” dan masih banyak kalimat serupa lainnya. 

Yang jadi pertanyaan adalah logika itu apa ?

Menurut KBBI, logika adalah jalan pikiran yang masuk akal. 

Nah masalahnya, tidak semua akal manusia memiliki konsep yang sama atau sederhananya, masuk akal bagi setiap orang bisa saja berbeda. Itulah mengapa pada akhirnya tidak sedikit orang yang menjadi “Cacat logika” karena dasar berpikir logisnya tidak valid atau dilandaskan pada asumsi yang sesuai nalarnya. 

Misalnya dalam kasus yang sering sekali menyebut menggunakan logika adalah dalam menanggapi fenomena yang biasa disebut gaib atau mistis. Misalnya dalam sebuah gudang yang penuh barang dimana tidak ada satu orang pun selain dirinya, dalam keheningan terdengar suara gaduh. Setelah diamati ternyata suara tersebut bersumber dari tumpukan barang disana. Tidak lama kemudian salah satu barang disana bergeser tanpa alasan yang jelas. 

Mendapati hal itu, maka yang bersangkutan mengklaim bahwa secara logis tidak mungkin benda bergerak dengan sendirinya jika tanpa adanya bantuan dari makhluk yang tidak terlihat dalam kasus ini adalah hantu. 

Logikanya mengatakan demikian. Sementara keberadaan hantu pun melawan logika. Lalu apa yang mendasari logika si orang ini sampai bisa mengklaim adanya hantu sementara hantu berlawanan dengan logika ? 

Dan hal ini terjadi di banyak kasus-kasus misterius yang bahkan tidak sedikit dari mereka yang masih tidak terpecahkan hingga saat ini. 

Kemudian yang jadi pertanyaan, bagaimana logika bekerja ? 

Secara sederhana, logika adalah kaidah berpikir yang benar dan cara yang digunakan untuk menghindari kesesatan berpikir berbasis data. Nah yang jadi masalah adalah data apa yang dimaksud ? 

Data apa yang mendasari dari munculnya logika tersebut ?

Dalam kasus contoh diatas, kita bisa melihat bagaimana logika yang bersangkutan bekerja adalah dengan berbasis data yang dimilikinya yang menyebut bahwa hantu,roh gentayangan, setan dan iblis itu ada dan masuk akal, maka logikanya akan menyesuaikan dengan data tersebut yang pun adalah bertentangan dengan ilmu logika. 

Lalu jika begitu masalahnya, bagaimana bisa logika dijadikan landasan berpikir jika data yang digunakan saja tidak sejalan dengan logika ? 

Ada lagi kasusnya misalnya orang yang sangat konspirasionis yang selalu mengkaitkan segala macam kejadian di muka bumi ini adalah terjadi sejalan dengan agenda yang sudah dibentuk oleh pihak tertentu misalnya dalam kasus ini elit global, maka segala macam hal yang dipikirkannya akan selalu terkait dengan hal-hal itu. Adanya bencana alam yang terjadi adalah elit global yang merekayasa iklim, krisis yang terjadi adalah cara elit global mengatur keuangan dunia dan munculnya wabah adalah cara elit global dalam mengurangi populasi manusia. Semua kejadian bahkan kejadian kecil yang menimpa dirinya adalah dampak dari permainan elit global. Logikanya selalu seperti itu. 

Maka pertanyaannya adalah, apakah logikanya logis ?

Lalu bagaimana dengan berpikir rasional ? Apa bedanya ? 

Secara sederhana, maknanya adalah sama saja. Konsep rasionalnya akan disesuaikan data yang menurut yang bersangkutan adalah masuk akal terlepas dari data tersebut valid atau tidak. 

Lalu, apa yang seharusnya terjadi ? 

Apakah dengan menjadi skeptis bisa mengakhiri kecacatan logika ? 

Apakah hanya bisa benar jika berpikir kritis ? 

Atau haruskah seseorang menghabiskan banyak waktu hanya untuk berpikir kritis dan kompleks ? 

Yang toh pada akhirnya semua harus kembali berhadapan dengan kenyataan dimana ada begitu banyak orang yang melandaskan pikiran logis yang berbasis data tidak valid. 

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, apa validator dari validasi yang disebutkan diatas sebagai rujukan logika ? 

Apakah kebenaran ? Lalu apakah kebenaran itu ? Apa yang disebut benar ? Atas dasar apa sesuatu bisa menjadi kebenaran ? 

Sampai disini kita sampai mana ?


Misalkan kebenaran itu sendiri apa, maka apa yang perlu menjadi pertimbangan sebuah informasi menjadi “benar”? Apa validator nya ? 

Semisal ada sebuah peristiwa kecelakaan terjadi di jalan raya yang dimana disana tidak cukup sepi tapi tidak terlalu ramai, biasa biasa saja normal seperti setiap harinya. 

Beberapa saksi kejadian mengatakan hal serupa yakni adanya kecelakaan yang melibatkan 2 kendaraan bermotor yang ditumpangi oleh 3 orang. 

Para saksi mengungkap kronologi kejadian sesuai dengan apa yang disaksikannya dari sudut pandangnya. 

Disana tidak hanya ada 1 saksi, misalkan saja ada 7 orang saksi, 3 pelaku atau pengendara yang juga punya kesaksian. 

10 orang disana masing masing mengklaim menyaksikan kejadian tersebut dengan jelas dan bisa menceritakan seluruh kejadian dengan detail dari sudut pandangnya. Begitu juga dengan para pelaku kecelakaan. 

Yang jika semua hadir dalam satu ruangan untuk bersaksi, tidak jarang kesaksian mereka semua berbeda. Lalu mana yang benar ? Apakah kesaksian para pelaku adalah paling benar ? Atau kesaksian para saksi yang 7 orang ini paling benar ? Atau kesimpulan dari semua pernyataan yang paling benar ? 

Selain mereka, ternyata ada kamera pemantau yang juga merekam kejadian dari awal hingga akhir. Apakah kesaksian kamera pada akhirnya adalah paling benar ? 

Dalam kasus tersebut, biasanya akan digelar olah TKP untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi secara rinci berdasar keterangan dari para saksi, pelaku sekaligus kamera pemantau. Lalu baru disimpulkan kebenaran melalui proses peradilan. 

Lalu pertanyaannya adalah apakah peradilan itu pada akhirnya yang menjadi satu kebenaran ? Apa validasinya ? Jika memang peradilan hanyalah mediasi yang pada akhirnya memberikan keadilan, apakah adil adalah benar ? 


Jika kebenaran saja sangat sulit ditemukan dan melibatkan banyak sekali faktor pendukung, bagaimana seseorang bisa kemudian dinyatakan benar dan salah dalam waktu singkat ? 

Mungkin disinilah peranan hukum yang pada akhirnuya mempersempit keruwetan itu dari satu sudut pandang yang pada akhirnya diterima sebagai kebenaran. Yang pun pada praktiknya seringkali adanya pengajuan banding atas peradilan yang sudah diputuskan lantaran masih ada yang tidak benar dari salah satu sudut pandang atau pihak. 

Disisi lain mengajukan keberatan atau banding adalah langkah yang benar untuk mendapatkan keadilan. 

Lalu apa itu benar pada akhirnya ?


Hal ini tentu berbeda dengan semisal siswa menjawab pertanyaan dengan benar atau salah pada lembar soal yang memang sudah ada kunci jawabannya. Dasar dari soal tersebut adalah jawaban yang sudah menjadi kebenaran. Jawaban yang cocok adalah kebenaran dan dasar berpikirnya adalah penyesuaian data yang selama ini dipelajari atau diingat pada pembelajaran tempo hari. 

Namun dalam ranah kehidupan yang lebih kompleks, tidak ada kunci jawaban yang pasti sudah tercatat. Maka menemukan kebenaran yang menjadi dasar berpikir saja sangat sulit dan tidak ada validator yang memvalidasi apakah itu benar dan salah. 

Lalu sebenarnya apa landasan berpikir kita ? Apakah kebenaran menurut sudut pandang kita yang dipengaruhi beragam faktor seperti budaya, agama, ajaran dan paham yang pun belum tervalidasi ? Atau ada dasar kebenaran lain yang rupanya datang dari asumsi dan persepsi kita bahkan preferensi kita pribadi atau golongan saja ? 

Apa ?