Teori Keberadaan Tuhan

Teori Keberadaan Tuhan


Teori Keberadaan Tuhan
- Sering kali saya mengobrol dengan orang-orang mengenai kepercayaan mereka terhadap Tuhan yang setau saya memang sudah otomatis sedari kecil mereka percaya, bahkan termasuk saya pun seperti itu.

Mengingat di Indonesia beragama adalah merupakan hal wajib berlandaskan sila pertama Pancasila, maka tidak heran jika semua orang di Indonesia lahir dengan kondisi bertuhan. Bahkan sebelum kelahirannya sekalipun berbekal dari pola pikir orang tuanya yang menganggap bahwa janin yang dikandung adalah pemberian dari Tuhan.

Lantas ....

Siapa Tuhan ?

Saat ini ada setidaknya tiga agama besar yang dikenal dan sebagiannya diakui di Indonesia yakni Kristen, Islam dan Yahudi (yang setau saya bukan agama melainkan sebuah ras atau bangsa) yang merupakan turunan dari paham Abrahamic Religion yang berlandaskan kepercayaan Ibrahim terkait keberadaan Tuhan yang sebelumnya merupakan jaman para Dewa. 

Yang dalam kasus ini, Ibrahim pertama kali memperkenalkan keberadaan Tuhan sebagai pembaruan dari paham yang dianut di jamannya yakni para pemuja Dewa seperti dewa Matahari dan Bulan, atau di Yunani dengan Dewa Zeus yang merupakan dewa tertinggi dari tatanan para Dewa.

Kemudian disebut Elohim pada jaman Musa dan YHWH pada jaman Yesus, hingga Allah pada jaman Muhammad yang sampai saat ini kita kenal bahkan menjadi penyebutan untuk nama Tuhan yang sah di Indonesia untuk kalangan Kristen sekalipun, lantaran Kristen belakangan masuk ke Indonesia.

Apakah Tuhan berbeda dengan Dewa ?

Tuhan yang kita kenal adalah sebuah entitas tanpa penjelasan objektif karena ia diluar dari objek itu sendiri, dan tidak ada turunannya. Sementara Dewa memiliki turunan dan tatanan ala Kerajaan dan keluarga hingga keturunan dari percampuran gen dengan manusia.  Dalam kasus percampuran Gen ini ada kisah Poseidon yang kemudian menikahi wanita bumi dan mendirikan kerajaan bersama dengan ke sepuluh keturunannya. Naskah ini di muat dalam kisah Atlantis karya dari Plato.

Dengan begitu kita tahu bahwa Tuhan berbeda dengan para Dewa. Tapi tidak sepenuhnya.

Siapa Abraham ?

Abraham atau yang dikenal dengan nama Ibrahim (berasal dari bahasa Arab) di Indonesia merupakan sosok paling sentral dalam pemahaman yang saat ini begitu besar dan mendominasi dunia ketuhanan.

Lalu siapa dia ? 

Dalam kepercayaan Yahudi, Brahma dikenal dengan julukan sebagai Bapak dari segala bangsa yang berasal dari tanah Kanaan yang kemudian diteruskan oleh Kristen dengan julukan yang sama. 

Kemudian dalam kitab Mahabharata dan Purana, Dewa Brahma merupakan leluhur dunia yang digambarkan sebagai sosok lelaki berjanggut putih dengan 4 muka yang menghadap ke seluruh penjuru dunia. Dari penggambaran tersebut, kita bisa melihat sedikit persamaan bahwa sosok Bapak merupakan sosok pria dewasa yang berkharisma dan tidak muda, terlepas berjanggut ataupun tidak dan bermuka satu ataupun empat.

Mengutip naskah dari catatan Abram yang kemudian digelari Abraham oleh Tuhan, Ia menemukan entitas Tuhan atas ketidak puasannya terhadap paham penyembahan para Dewa yang bertempat tinggal di langit. 

Orang jaman dulu cenderung menganggap benda langit seperti bintang dan planet merupakan sosok para dewa yang memelihara kehidupan di Bumi yang padahal Bumi merupakan planet yang sama nilainya dengan beberapa planet yang beredar di tata surya, yang dalam kata lain, Bumi merupakan benda bulat bersniar cerah jika dilihat dari bulan yang saat itu dianggap sebagai salah satu Dewa.

Saat pencariannya terhadap sosok Tuhan selain dari dewa yang dipatungkan, ia menganggap bahwa patung tersebut disembah oleh masyarakat jaman itu dibawah kekuasaan Raja Nimrod. 

Hal ini masih terjadi hingga sekarang bahwa masih banyak orang yang menganggap beberapa kaum masih menyembah patung (Berhala) untuk berdoa. 

Yang padahal secara logika dan pengakuan dari pelaku, mengatakan bahwa mereka tidak menyembah patung melainkan patung hanya sebagai penggambaran sosok yang mewakili karakter dari dewa yang ia sembah. Dan semua agama yang ada di Indonesia melakukan hal yang sama, hanya saja tidak menyadari dan kemudian menuduh yang lain menyembah berhala, menyembah batu, patung dan lukisan.

Dalam perjalanan pencarian Tuhan oleh Ibrahim tidak ada penjelasan selain dari kisah awal mula ia dilahirkan dan dirawat oleh Jibril dan kemudian menyerukan KeEsaan Tuhan dan menghimbau masyarakat untuk meninggalkan sesembahan berhala hingga ia kemudian menghancurkan patung-patung di sebuah kuil persembahan. Hingga kemudian ia dibakar hidup-hidup sebagai hukuman dan selamat dari kobaran api tersebut. 

Tidak ada naskah yang menceritakan pertemuannya dengan Tuhan selain dari perjamuannya dengan malaikat yang diutus untuk menghancurkan tanah Lot yang merupakan sudaranya.

Perintah Kurban

Dalam catatannya, Ibrahim atau Abraham mendapati perintah dari Tuhan melalui mimpi untuk menyembelih anaknya sebagai kurban. 

Perihal kurban juga bisa kita temukan pada naskah Habel dan Kain yang merupakan anak Adam yang bertikai. Sampai sini saya pribadi tidak mengerti mengapa orang jaman dulu sering menggunakan "pengurbanan" terhadap sesembahan mereka. 

Yang artinya Abraham tidak menemui Tuhan atau sebaliknya melainkan segala perintahnya berasal dari mimpi yang menurut orang yang percaya bahwa mimpi Nabi merupakan mimpi yang berbeda dari manusia biasa lantaran mereka diberi kelebihan diluar dari manusia biasa.

Yang secara ilmiah, kita bisa menemukan banyak bahasan mengenai mimpi yang nyatanya selalu berkaitan dengan kondisi mental dan kesehatan seseorang, bukan berkelana dalam alam atau dimensi lain diluar dari dimensi kita saat ini. 

Paham ketuhanan dengan segala persembahan dan ritualnya kemudian dianut oleh kaum setelahnya yang setuju dengan pola pikir tersebut hingga membentuk beberapa golongan yang saat ini masih kita temukan yakni Yahudi , Kristen dan Islam. 

Elohim

Setelah Ibrahim atau Abraham, teori keberadaan Tuhan diteruskan oleh Musa yang saat itu bersama Harun kakaknya dengan sebutan Elohim. Kisah Musa mencatat suatu peristiwa permintaan Musa agar Tuhan menampakkan wujudnya tatkala ia menaiki sebuah bukit, namun Tuhan menolak dan ketika harus menunjukkan wujudnya diatas gunung, Musa pingsan. 

Sepulang darisana, Musa membawa bongkahan batu yang bertuliskan aturan yang didapat dari Tuhan, dan bongkahan batu tersebut sejauh ini tidak pernah ditemukan. Kemudian diketahui pula bahwa naskah Musa dan kisah fantastisnya hanyalah kisah fiksi yang tidak bisa dibuktikan kebenaran dan keberadaannya. 

Tidak ditemukan jejak perjalanan selama 40 tahun di padang gurun selepas keluarnya dari Mesir membebaskan kaum Yahudi yang diperbudak Mesir, tidak ditemukan data valid terkait Firaun yang saat itu mengejar Musa dan tenggelam dalam laut yang terbelah dan tidak ditemukan pula sisa peninggalan Musa berbentuk bongkahan batu yang dibungkus kotak kayu berlapis emas yang sering disebut dengan "Tabut Perjanjian".

Dan dalam peristiwa Musa pun jikalau memang dia benar ada, tidak ada data yang menunjukkan bahwa ia bertemu dengan Tuhan atau melihatnya secara langsung, karena mungkin kembali ke pemahaman awal bahwa Tuhan harus berada diluar dari jangkauan pikiran manusia yang dibuat oleh Abraham.

Yesus adalah Tuhan ?

Kisah ini kemudian diteruskan pada jaman Yesus atau di Indonesia juga dikenal dengan nama Isa atau Nabi Isa As yang masih satu keturunan dengan Musa yakni Israel. Sebelum itu banyak kisah yang dimuat dalam dunia pernabian yang jika diruntut adalah merupakan raja dari Israel seperti Daud dan Solomon atau yang dikenal dengan nama Sulaiman di Indonesia.

Berbeda dengan Abraham dan Musa serta raja-raja lainnya, Isa justru menyebut dirinya adalah Tuhan itu sendiri dengan nama YHWH atau disini sering dieja dengan kata "Yahweh" yang bersaal dari bahasa Ibrani. 

Dalam kasus ini, muncul gaya baru dari Tuhan yang sebelumnya tidak terlihat dan entah dimana, kali ini mewujudkan diri sebagai manusia dan hidup diantara manusia yang lain namun memiliki perbedaan yang istimewa. Salah satu yang paling tidak umum adalah bahwa ia terlahir dari rahim seorang perawan suci bernama Maria. Dan disini kita mengenal istilah penjelmaan Tuhan ke dalam bentuk manusia.

Kemiripan dengan Krishna

Krisna merupakan sosok dewa yang kemudian menjadi manusia dan hidup ditengah para Pandawa sekaligus menjadi penasihat serta kusir saat perang dahsyat Mahabharata dengan para Korawa.

Dalam naskahnya, Khrisnya adalah bentuk (Avatar) dari Wishnu yang sebelumnya juga menjadi siapapun yang ada di dunia ini termasuk Korawa itu sendiri. Yang jika dipahami dalam ucapan dan pengakuannya, Krishnya merupakan dewa yang melingkupi seluruh kehidupan dan kematian, tidak ada secuilpun di semesta ini yang bukan dirinya, dalam kata lain ialah Tuhan yang sesuai dengan gambaran Tuhan belakangan ini, yang masih dengan kuasanya mengubah wujud sesuka hatinya dan tetap menjadi hakim yang adil dan bijaksana dengan tetap mengikuti kaidah peperangan manusia alih-alih memusnahkan dalam satu kedipan mata. Yang kemudian hal ini ditolak dengan aturan baru bahwa Tuhan tidak menyerupai apapun di dunia dan diluar itu.

Tuhan Semesta Alam

Mengkoreksi semua kuasa yang dimiliki Tuhan di edisi sebelumnya, saat ini Tuhan yang maha Esa lebih dikenal di Indonesia yang diakui oleh mayoritas penduduk. Tuhan yang maha kuasa dan maha segalanya namun bukan Mahasiswa. Namun dengan batasan bahwa Ia tidak mungkin, tidak boleh, dan tidak akan menjadi makhluk ciptaannya seperti manusia ataupun yang lain. Ia merupakan sosok yang independen dan tidak serupa dengan apapun yang ada di semesta ini yang merupakan ciptaannya.

Yang padahal dalam naskah mengenai kemunculan Adam, Adam dibuat dengan wajah Tuhan yang artinya manusia dan Tuhan memiliki kesamaan dalam bentuk atau wujud. Mungkin ini yang juga di revisi atau diperbarui dengan konsep yang ketuhanan gaya baru.

Tuhan juga disebut sebagai pencipta alam semesta seluruh jagad raya ini. Tidak ada secuilpun di semesta ini yang luput dari pengetahuan dan pandangannya. Namun terlepas dari kekuasaannya yang meliputi segala sesuatunya dan maha segalanya, Ia memiliki sifat-sifat manusiawi yang aneh seperti pencemburu dan pengasih serta penuntut. Apakah itu tidak aneh ?

Paradox Ketuhanan

Dalam dunia pengetahuan yang haus akan jawaban, Entitas Tuhan pun tidak luput dari jeratan pertanyaan yang harus terjawab. Seperti kekuasaan Tuhan misalnya.

Jika Tuhan maha kuasa, bisakah Ia menciptakan batu yang tidak bisa dia angkat ?

Tentu hal ini tidak akan mendapat jawaban yang benar lantaran terlalu kontradiktif. Jika anda tidak mengerti, begini penjelasannya. 

Tuhan maha kuasa yang artinya ia haruslah bisa menciptakan batu yang luar biasa beratnya hingga ia pun tidak mampu mengangkatnya. Dan jika ia bisa menciptakan itu, berarti ia tidak maha kuasa lantaran tidak bisa mengangkat batu tersebut. Dan jika akhirnya ia bisa mengangkat batu tersebut, maka ia tidak maha kuasa lantaran tidak bisa menciptakan batu yang tidak bisa ia angkat.

Sejauh ini banyak spekulasi jawaban yang bahkan ada yang mengklaim bahwa jawabannya adalah paling ampuh dan masuk akal dan bisa menyadarkan para penolak Tuhan seperti misalnya Tuhan bisa menciptakan batu tersebut dan tidak bisa mengangkatnya di dalam dimensi manusia dan bisa mengangkat di dimensi atau waktu yang lain. Karena dimensi dan waktu yang manusiawi tidak berkaitan dengan Tuhan dan Tuhan berada diluar batasan kemanusiaan tersebut, katanya.

Yang justru itu jawaban paling ngawur yang pernah saya dengar.

Hingga akhirnya keberadaan Tuhan memang patut untuk dipertanyakan apalagi hal tersebut merupakan hasil pikiran orang masa lalu yang seharusnya dikaji ulang secara mendalam yang sayangnya hal tersebut tidak boleh dilakukan, sudah dibatasi dengan ayat-ayat yang sangat pintar untuk menamengi ideologi tersebut. Seperti misalnya, 

"Jikalaupun didengarkan kepada mereka ayat-ayat, mereka berpaling dan menganggap itu hanya sebuah dongeng masa lalu".

Teori Keberadaan Tuhan

Teori keberadaan Tuhan sudah sangat lama saya pertanyakan membuat saya akhirnya terlibat obrolan dengan banyak orang terkait hal tersebut. Dan garis besar yang saya dapat dari berbagai narasumber selalu mengatakan bahwa bukti keberadaan Tuhan adalah adanya semesta ini.

Semesta ini ada karena ada yang menciptakan, semua ini tidak akan ada jika tidak ada yang menciptakannya.


Jadi menurut mereka teori tersebut merupakan teori paling valid dan masuk akal dari keberadaan Tuhan yang padahal teori tersebut juga merupakan teori yang menyanggah keberadaan Tuhan. Kok bisa ?

Jika semua hal harus ada yang menciptakan seperti semesta ini, maka Tuhan juga harus ada yang menciptakan. Lalu siapa pencipta Tuhan ? 

Apakah Abraham ? Atau justru bahkan Abraham pun merupakan kisah contekan dari kisah Brahma yang lahir dari pusar Wishnu ?Atau sebaliknya ?

Di era yang sudah semakin terbuka ini, masih perlukah orang memiliki kepercayaan terhadap entitas yang tidak jelas validasinya dan selalu bertentangan dengan logika ?

Atau haruskah dikembalikan ke benteng ayat ketuhanan bahwa Tuhan berada diluar logika dan otak manusia terbatas ? Dan kemudian berlanjut berhalusinasi ?

Atau Atheis adalah pilihan terbaik ? Tapi Apakah Atheis Legal di Indonesia ?