Bekerja Dengan Passion

Bekerja Dengan Passion


Tidak terasa terhitung sudah 6 tahun saya berkutat dalam industri kreatif khususnya LINE Sticker.

Dan waktu 6 tahun sebetulnya tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu singkat, banyak hal yang terjadi dalam waktu yang relatif ideal untuk menyusun rencana tersebut, salah satunya diundang ke Istana Presiden yang sudah pernah saya bahas. 

Sempat juga dapat kesempatan jalan-jalan ke Jepun yang saya sebut mudik hehe yang juga sudah saya ceritakan, kalian bisa baca-baca jika diperlukan.

Berkenalan dengan orang-orang luar biasa hingga tinggal satu kamar bareng kreator Tahilalats, Ghosty Comic dan makan bareng kreator-kreator pentolan di Industri Kreatif Indonesia.

Banyak perubahan dalam hidup saya selama 5 tahun terakhir yang bahkan tidak pernah saya kira akan terjadi secepat itu. Hampir semua impian masa remaja saya tercapai dalam waktu 5 tahun terakhir hingga mendapat momongan tahun ini. Semua berjalan dengan sempurna. 

OK, lantas apakah itu semua cukup ? Tidak.

Saya masih belum apa-apa, bukan siapa-siapa dan belum punya apa-apa. Masih banyak hal yang harus saya dapatkan dalam hidup yang sekarang tidak lagi sendirian. 

Itulah mengapa belakangan ini saya kembali produktif. Memulai semuanya dari awal dalam siklus 5 tahunan. Iya, beberapa tahun terakhir saya sempat vakum dan santai-santai dengan istilah "Tidur dibayar" dan bangga menjadi pengangguran. 

Bekerja dengan Passion

Dalam hal dunia kerja, sebenarnya saya masih nganggur hingga saat ini, tidak terkait dengan instansi manapun, tidak terikat kontrak eksklusif dengan pihak manapun secara personal, hanya terikat kontrak sebagai partner LINE Official Creator yang tidak sepenuhnya mengikat. Dengan itu saya merasa beruntung dan benar apa yang pernah dikatakan kepada saya bahwa saya hanya beruntung, dan memang hanya itu yang kita butuhkan, sesuai dengan doa setiap orang "Semoga beruntung (Good luck).

Banyak orang diluaran sana yang kurang beruntung, bahkan kerabat saya mengalami hal tersebut. Bekerja di bidang yang bahkan tidak disukai hingga belasan tahun dan bertahan hanya karena tidak tahu harus kemana dan melakukan apa selain itu. Sehingga melakukan pekerjaan hanya supaya gaji bulanan aman yang padahal dipaksakan cukup. 

Saya secara pribadi senang melihat perkembangan jaman yang sudah jauh lebih maju dari 10 tahun yang lalu, sangat pesat. Dan melihat banyak remaja-remaja menemukan lahan baru meniti karir di industri internet. Tidak melulu melamar pekerjaan yang mungkin bahkan tidak akan pernah sesuai dengan minat mereka. 

Beberapa tahun terakhir, kita sering menjumpai Youtuber, penyanyi youtube, selebgram yang tergolong masih sangat belia namun sudah menuai kesuksesan yang luar biasa. Mereka-mereka yang meniti hidup dan bekerja sesuai dengan passion memang pantas mendapatkan semua itu. 

Sementara yang sudah belasan tahun bekerja mempertahankan gaji atau kontrak KPR dari perusahaan, masih gitu-gitu saja. 

Minat

Saya pernah sedikit berbincang dengan kawan lama saya di Facebook. 

Beliau nanya, "Bisnis apa ya enaknya ? Capek jadi kuli mulu" katanya.

Dengan entengnya saya bilang, jualan aja di Toped atau Shopee, kalo gak punya barang bisa dropship atau reseller. 

Dan dengan enteng pula beliau menjawab, "Ah gak bakat jualan". 

Dengan enteng juga kemudian saya nanya "Lah lu bakat dikerjaan sekarang ?" 

Dan beliau pun menjawab, Tidak.

Nah ini anehnya.

Ada dua pilihan pekerjaan, sama-sama tidak ada bakat, satu potensinya flat (meniti karir gaya lama) sementara yang kedua potensial sekali mengingat orang saat ini lebih suka berbelanja online. Tapi ,,, alasan tidak ada bakat hanya ada untuk opsi kedua. Dan lagian, hari gini masih saja beranggapan soal ada dan tidak ada bakat, sementara sudah jelas-jelas bakat itu tidak ada. Aneh. Katanya capek.

Obrolan seperti itu tidak hanya terjadi pada satu atau dua orang, beberapa orang dengan cara pikir yang sama. Enggan belajar. Heran.

Kalimat umum yang digunakan, "Yang pasti-pasti saja". Konyol.

Kerjakan apa yang Kau cintai dan Cintai Pekerjaanmu


Sebenarnya hal ini satu kesatuan yang tidak terpisahkan, namun saya juga pernah mendengar nasihat bahwa kalimat diatas bisa berarti dua pilihan, yakni Kerjakan apa yang kau cintai, namun jika tidak bisa, maka cintai saja pekerjaanmu. 

Dan dengan kata "Capek jadi kuli" apakah bentuk dari rasa mencintai pekerjaan ? 

Ya memang, dalam melakukan apapun kita akan menemukan titik jenuh ataupun capek, lelah dan tersiksa. Apalagi jika belum menghasilkan apapun dan kadang memaksa kita untuk menyerah. Yang mungkin kesuksesan sudah ada di satu langkah berikutnya jika kita tetap fokus melangkah.

Dulu saya beranggapan bahwa setiap orang memiliki hobby nya masing-masing dan disitulah kecintaannya kemudian disebut passion. 

Rupanya saya salah.

Banyak orang-orang yang bahkan tidak mengerti soal dirinya sendiri. Tidak mengerti apa minatnya, tidak tau apa yang disukainya dan mengaku tidak memiliki hobby. Atau dia sebetulnya tengah menjalankan hobby nya yakni berbohong ? Entahlah.

Sehingga, kalimat Kerjakan apa yang kau cintai tidak berlaku dan berakhir dengan tidak mencintai pekerjaannya karena ternyata tidak sesuai minat dan tidak dibayar mahal. Yang ada hanya keluh kesah dan pengalaman tidak menyenangkan.

Mental dan Pola Pikir

Semua berawal dari sini. Mental dan pola pikir seperti apa yang kita miliki, yang mana mungkin ini berasal dari lingkungan, keluarga atau memang dari dalam diri sendiri yang kebingungan. 

Banyak orang yang menemukan minat sedari kecil dan menjalaninya dengan senang hati, kemudian menyadari bahwa apa yang dilakukan itu tidak ada gunanya. Saya pernah mengalami itu dan sempat memutuskan untuk menghentikan omong kosong itu dan beralih ke jalur yang lebih realistis sesuai apa yang dilakukan orang-orang. Berdagang.

Dimana saya tidak memiliki minat maupun kemampuan dan keinginan untuk belajar berdasar dari mental block yang saya miliki. Dan akhirnya saya tidak bisa menipu diri bahwa minat saya tetap menyeret saya untuk kembali. 

Kawan lama saya diatas tidak sepenuhnya salah, hanya memang tetap aneh karena mengeluh tapi menolak untuk menerima hal baru yang mungkin belum pernah ia tengok.

Karena dagang tidak sesuai minatnya dan karena itu pula enggan untuk mempelajari bahkan untuk sekedar menengok. Tapi setidaknya kita harus mengerti, meskipun tidak ada minat kita disana, selalu ada peluang dalam sesuatu yang baru.

Ada satu kawan lain yang dengan jelas mengatakan bahwa "Saya tidak tertarik dengan yang online-online, saya maunya yang jelas ada fisiknya". 

Ya, beliau ini pengusaha yang cukup sukses, pengusaha retail yang saya tidak tau apa saja yang dijual atau bisnisnya. 

Idealis

Tidak apa-apa menjadi idealis dan menolak hal yang menyimpang dari apa yang diminati dan diyakininya. Menolak kemajuan ekonomi internet untuk mempertahankan argumennya yang lebih melihat toko fisik lebih meyakinkan.

Jujur saya saya masih tidak mengerti jalan logikanya. Hingga saat ini. Meskipun beliau ini sya sebut terbilang cukup sukses dengan cara nya, namun logikanya masih saya pertanyakan.

Saya ambil contoh sederhana saja. Buka warung kelontong misalnya, menjual beraneka ragam kebutuhan harian yang sudah pasti tidak akan pernah sepi peminat. 

Melayani warga sekitar yang setiap hari belanja dan beberapa orang luar daerah yang kebetulan lewat. 

Secara logika, segmennya kan itu-itu saja, marketnya ya hanya orang-orang itu saja yang bisa dihitung, misal warga satu kampung ada berapa puluh kepala keluarga. Dan dalam satu kampung ada berapa warung kelontong yang mendadak buka melihat satu warung terlihat ramai ? 

Muncul saingan baru dan kemudian mengeluh sepi pembeli. Ya itu ada sih yang mengalami. Dan beberapa kemudian tidak mampu bersaing terkendala modal. Tutup. Ya karena semua orang bisa buka warung hingga toko asal berani modal.

Bandingkan dengan berjualan di marketplace, tidak perlu modal besar, buka toko tidak ada yang tau, pelanggan bukan cuma dari satu kampung, melainkan satu negara, bahkan luar negeri. 

Tidak punya produk, tinggal dropship atau reseller, buka selama 24 jam penuh tanpa perlu dijagain, melayani otomatis dan tersedia support system untuk semua kendala yang terjadi. Bukannya itu lebih mudah ?

Saya sendiri beberapa kali menjual barang bekas di Toped dan Shopee, memang bukan niat jualan seutuhnya, tapi kan tetap jualan dan buka toko. 

Iya, saya sendiri idealis dalam beberapa hal bahkan termasuk dalam ranah produksi sticker.

Kemarin saya sempat ngobrol dengan salah satu kreator LINE sticker juga yang belakangan ini juga produktif. Beliau ini animator yang sudah terlibat dalam beberapa proyek film animasi yang bahkan tayang di Televisi nasional, namun mengaku tidak bisa menggambar. 

Sehingga dengan begitu, beliau ini menggunakan template animasi dan saya cukup tertarik untuk menilik konsep pembuatan dan perilaku market terhadap sticker yang menggunakan template. 

Kenapa saya sebut menggunakan template ? Ya karena memang menggunakan motion template sehingga meskipun karakter stickernya beragam, namun gerakannya yang itu lagi itu lagi. Dengan begitu produktifitas lebih cepat. Setiap hari bisa rilis satu set sticker full pack isi 24 item. Kan robot sekali. 

Saya pribadi tidak tertarik untuk menerapkan konsep seperti itu ke sticker saya dan lebih memilih untuk tetap manual gambar frame by frame yang saya nilai lebih natural meskipun ada kendala dengan garis yang kadang tidak konsisten. 

Dan mungkin saya cukup idealis dengan ini, namun tidak menutup mata dengan hal baru semisal app animator baru, saya masih mau mencoba meskipun akhirnya melupakannya dan lebih mementingkan produksi daripada mempelajari app baru yang semuanya bisa dilakukan di app yang saya gunakan. 

Toh fitur yang saya gunakan juga cuma brush, timeline dan color picker. 

Wah panjang sekali artikel ini.

Dan balik lagi ke passion. Terlihat sih mana yang dikerjakan dengan passion dan mana yang tidak. 

Dan saya rasa, ada value dari effort yang kita taruh disetiap pekerjaan kita, dan itulah harga dari apa yang kita kerjakan menggunakan passion.