
Dedikasi - Satu Part Yang Hilang
Dalam nashkah motivasi sering kali disebut sebut apa-apa saja yang petting dalam meraih kesuksesan, mulai dari impian dan implementasi dalam kehidupan bahkan dengan tambahan-tambahan afirmasi yang konon katanya cukup membantu. Namun sebenarnya ada satu part penting yang sering kali hilang. Apa itu ? Dedikasi.
Impian
Selama ini selalu yang menjadi dasar untuk meraih kesuksesan dalam hal apapun itu tidak pernah lepas yang namanya Impian. Pernahkah anda bermimpi ?
Ini bukan soal mimpi di dalam tidur, melainkah lebih kearah menginginkan sesuatu dalam sadar dan benar-benar ingin mendapatkannya. Mungkin lebih sering disebut cita-cita ketika kita masih kecil, namun cita-cita bukanlah impian.
Biasanya, impian baru akan muncul saat kondisi mental kita sudah tumbuh dan mengerti tentang kehidupan yang lebih kompleks. Melihat kemungkinan dan ketidakmungkinan, yang kemudian akan membentuk pola pikir yang melahirkan impian. Umumnya seperti itu.
Namun bukan berarti bahwa ada saja impian yang benar-benar tulus terlahir tanpa ada distraksi dari segala pemikiran yang berkaitan dengan realita. Misalnya saja, ketika kita tidak punya apapun, kemudian bisakah kita memiliki impian memiliki hotel mewah ?
Jika kita sudah terkontaminasi dengan realita, maka hal terseubt menjadi sangat tidak mungkin. Namun tidak demikian dengan poin yang kedua diatas.
Bakat
Hal ini sering sekali dilewatkan bahkan sangat jarang dilibatkan dalam pembahasan materi meraih mimpi. Yang padahal ini merupakan point yang sangat penting. Kita bisa sedikit mengintip banyak orang besar yang sudah terlebih dulu meraih impian mereka dan apa yang membuat mereka meraihnya.
Misalnya saja Messi. Iya, Messi si pemain bola anak emas Fifa (begitu orang menyebutnya) yang menjadi pemain bola dengan nilai transfer yang fantastis.
Jika kita melihat apa yang terjadi sekarang, mungkin kita akan dengan gampangnya bilang bahwa Messi berbakat. Hal itu wajar bila kita memang tidak menggunakan logika atau logika kita sudah rusak.
Banyak orang akhirnya menggunakan kata bakat untuk menghakimi oang yang telah
berhasil meraih mimpinya tanpa kita memberi kesempatan logika kita untuk
melihat lebih dalam segala kemungkinan yang terjadi. Itu memang naluri kita
yang tidak berkembang dan cenderung denial. Dan ini masuk akal jika
disambungkan dengan naskah kemunculan
Adam si bukan manusia pertama. Dimana proses panjang bisa di tiadakan dengan keyakinan.
Lalu apa itu bakat ?
Banyak pandangan berbeda mengenai pengertian bakat. Ada yang melihat bahwa bakat merupakan kemampuan seseorang yang sudah ada sejak lahir sehingga ia bisa melakukan hal dengan lebih baik dan lebih cepat dari orang biasa. Orang biasa ?? ok sudahlah.
Ada juga yang mengatakan bahwa bakat merupakan sebuah kemampuan yang lebih baik dan lebih cepat dari orang lain akibat dari latihan panjang yang dijalani.
Dan jujur saja saya lebih setuju pendapat kedua dan itu lebih masuk akal.
Sekarang lihat saja ke belakang, kepada diri anda ataupun orang lain. Dan tanyakan pada diri anda sendiri, apakah kemampuan yang anda miliki sekarang merupakan kemampuan yang anda miliki sejak anda lahir ? Dan apakah ketika bayi terlahir sudah memiliki kemampuan khusus selain menangis ?
Bahkan berjalan pun tidak mampu. Jangankan itu, melek saja tidak bisa. Apakah kemudian ia berbakat di suatu bidang jika hal umum seperti itu saja mereka tidak bisa melakukannya ?
Disinilah penting nya sebuah Proses.
Proses
Setiap hal yang terjadi memiliki sebuah runtut peristiwa (Timeline) yang menyusun sebuah pola. Yang selama ini diabaikan dalam naskah kemunculan Adam dan Hawa. Proses panjang ini merupakan pola yang berkaitan dalam membentuk kemampuan seseorang dalam melakukan sesuatu.
Valentino Rossi, si pembalap motoGP misalnya. Pernahkah anda berfikir bahwa ia sudah bisa balapan sejak ia lahir ? atau setidaknya selepas ia mulai berjalan ?
Jika iya, logika anda memang sudah tidak bekerja.
Banyak anggapan begini, orang yang memiliki bakat akan cenderung lebih bisa menguasai suatu kemampuan lebih cepat dibanding orang yang tidak memiliki bakat dalam bidang itu.
Ini pendapat yang salah.
Kemampuan seseorang bisa lebih cepat berkembang dalam suatu bidang itu tidak didasari oleh bakat bawaan sejak lahir, melainkan minat. Dan situasi inilah yang akan membangun alur peristiwa (Proses) yang berujung terbentuknya bakat.
Tidak akan terjadi proses baik pendek atau panjang jika tidak ada minat untuk melakukannya.
Coba saja anda diminta melakukan sesuatu yang tidak anda minati, akankah anda rela melakukannya dan menikmatinya ? jangankan menguasainya, melakukannya saja sudah enggan. Dan jika anda beranggapan anda tidak memiliki minat karena anda tidak punya bakat di bidang itu, lagi-lagi anda keliru. Logika anda sudah waktunya di singkirkan.
Lama dan singkatnya sebuah proses bergantung dari tujuan dan mimpi seseorang diiringi dengan minat dan tindakan yang konsisten. Jika salah satu dari itu diabaikan, mungkin akan mentok ditengah jalan dan tidak akan mencapai ujung dan menemukan bakat.
Di satu sisi, orang dengan bijak berkata "Nikmati prosesnya" dan di sisi lain mengatakan bahwa "Saya tidak berbakat". Ini pola pikir yang kacau.
Selain dari minat, ada konsistensi yang dibutuhkan untuk menjalani panjangnya proses. Tindakan yang terus menerus dan rutin akan mempersingkat proses atau meningkatkan hasil dari proses itu sendiri. Dan hal ini memang tidak mudah. Ada pengorbanan yang sangat tinggi dari segi waktu, energi bahkan hingga finansial. Ujungnya, bakat.
Jadi jika anda beranggapan bahwa bakat merupakan bawaan lahir, sunguh itu pikiran yang sama sekali tidak bijak dan tidak menghargai kerja keras seseorang dalam meniti proses yang begitu panjang dengan banyak pengorbanan. Dan anda tidak pernah belajar.
Konsistensi
Hal paling berat dalam meniti sebuah proses adalah konsistensi. Apalagi jika dilakukan tanpa adanya impian atau tujuan yang jelas.
Orang-orang besar yang berhasil dalam meraih kesuksesan cenderung tidak melihat proses mereka sebagai halangan atau jembatan yang mengerikan. Karena impian dan minat mereka membangun jalan yang mulus sebelumnya. Impian yang jelas dan kuat di dalam minat nya, maka terbentuklah proses dengan sendirinya. Untuk itulah sebelum memulai proses secara konsisten, temukan dulu minat anda dan buatlah impian dalam hal itu, maka proses akan berjalan.
Namun masih ada yang kurang. Yakni Dedikasi
Dedikasi
Minat sudah ada, impian sudah dibuat dengan plan-plan yang terencana, dijalani dengan konsisten, namun masih terasa begitu berat dan menyiksa. itu terjadi karena satu hal dasar yang hilang yakni Dedikasi.
Dedikasi atau pengabdian. Layaknya Messi yang mengabdikan diri untuk bola, Rossi yang mengabdikan diri untuk balapan, atau anda yang mengabdikan diri untuk keluarga tercinta.
Hal dasar ini sangat dibutuhkan untuk menentukan kemana langkah kita selanjutnya dalam meniti proses panjang.
Tanyakan ini pada diri anda sendiri, apa yang mendasari anda melakukan sesuatu ? Keinginan ? harapan ? minat atau impian anda ?
Lalu tanyakan lagi, apa guna impian anda jika terwujud ? Kesenangan ? kebahagiaan ? Untuk siapa ?
Tanpa itu semua kita bisa dengan mudah kehilangan satu langkah penting dalam proses panjang yang kita jalani. Saya sudah membuktikan itu. Dan saya pun melihat ada banyak sekali orang yang bahkan akhirnya tidak punya impian dan hanya menjalani kehidupan dengan cara biasa saja. Hanya hidup untuk hari ini, yang penting hari ini makan, besok cari lagi dan lain-lain sejenisnya.
Mengenaskan bukan ?
Disinilah peran penting smua yang sudah kita buat mulai dari Impian hingga konsistensi. Tanpa pengabidan ini kita bisa dengan mudah kehilangan satu atau bahkan beberapa langkah penting dalam meniti proses.
Jangan dedikasikan diri anda sendiri. Kenapa ?
Kita merupakan orang yang sangat mengenal diri kita sendiri, meskipun banyak penilaian dari orang lain, tetap saja kita yang memiliki diri kita sendiri dan bertanggung jawab sepenuhnya. Dan karena itulah sering kali kita lembek dan terlalu banyak memberi toleransi. Untuk itu, alihkan dedikasi untuk hal lain, bukan diri kita sendiri.
Misal saja untuk keluarga, untuk pasanan atau untuk anak anda atau bahkan untuk dunia anda sendiri yang tentu anda tidak memiliki kuasa penuh atasnya.
Dengan begitu kita bisa mengubah fungsi kita dari manusia yang memiliki perasaan dan kebijakan menjadi perangkat yang hanya memiliki tanggung jawab sesuai fungsi kita.
Post a Comment
Ada pertanyaan? Diskusikan dengan penulis atau pembaca lain
Tulis Pertanyaan